Terima kasih Gojek yang bela-belain datang ke kantor dan kasih Mawar di Hari Valentine ini 💕💕💕

#pathparty – with Poppy at PALTV

View on Path

Iklan

Surprise banget siang tadi pas si Imu, keponakan pulang dari kondangan. Imu langsung cerita
Imu : Bunda, Imu tadi kondangan ke tempat teman papa
Saya : kondangan apa (saya pikir akikah)
Imu : ya kondangan pernikahan Bunda, teman papa itu menikah
Saya : ooo terus
Imu : ya enaknya bunda juga menikah, kayak mami (adikku) menikah dengan papi, ya bunda menikah juga dengan orang
Saya : Aamiin terus… (Ambil hp langsung record
Imu : ya enaknya bunda menikah dengan orang,
Saya : emang kenapa
Imu : ya bunda kan baik
Saya : terus
Imu : bunda suka beliin imu sepatu
Saya : terus
Imu : beliin baju
Saya : terus
Imu : roti
Saya : (kehabisan kata-kata) imu tadi darimana
Imu : dari kondangan

Ya semoga Allah segera meng-ijabah doa Imu ya nak
Semoga Allah segera mengirimkan jodoh buat bunda ya
Aamiin Allahumma Aamiin – with Pamella and Gita

View on Path

Alhamdulillah
Betapa Allah mengatur semua urusan kita
Awalnya memang ingin ikut Halim Runway 2017 ini tapi karena ada jadwal audisi di tanggal yang sama, saya pun memilih tidak mendaftar.
Namun Allah memudahkan semua urusan, jadwal Audisi mundur karena ada rapat di Jakarta satu hari sebelum race.
Cukuplah mendekatkan diri kepada Allah dan biarkan Allah yang mengatur urusanmu.
Mari pulang …. – at Soekarno-Hatta International Airport (CGK) (Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta)

View on Path

Assalamu’alaikum,

Teman-teman semua…
Mohon bantuannya bagi yang memiliki golongan darah B. Mohon kesediaannya untuk membantu donor darah Lupi – wartawan Sindo, yang saat ini sedang berjuang melawan Leukemia. Saat ini Lupi butuh 20 kantong darah untuk proses kemotherapi, baru 2 yang cocok.

Informasi kontak Lupi : 081224059190.

Terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikan kita semua. – at RS Mohammad Hoesin Palembang

View on Path

Alhamdulillah Allah mengirimkan dan memberikan nikmat luar biasa untuk saya hingga hari lahir saya ini

Ibu dan Ayah, saudara dan keluarga serta teman-teman yang begitu baik, sayang dan perhatian dengan saya

Terima kasih banyak untuk semua ucapan, doa dan perhatiannya yang diberikan di hari lahir saya
Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan
Semoga keberkahan 10 Muharram ini juga memberkahi kehidupan kita semua – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

Tentang Pertanyaan Kapan Nikah/Kawin

Bagi seorang lajang pertanyaan “Kapan Nikah atau “Kapan Kawin” adalah pertanyaan yang akan selalu didengar entah saat datang ke acara pernikahan teman, mulai ada yang tanya “Kapan nyusul atau sejenisnya”

Begitu juga saat datang ke acara keluarga, arisan bahkan lebaran, mulai dari om, tante, uwak, Bibi, mamang pasti akan sibuk bertanya “Kapan kawin” Mau nunggu apa lagi atau juga jangan sibuk kerja terus”

Setelah mendengar jawaban kita akan banyak ucapan-ucapan lain yang terdengar “kamu sih sibuk kerja terus” atau “kamu sih pilih-pilih”

Mungkin hati ini sudah tidak terasa lagi saat orang bertanya “Kapan Kawin” termasuk dengan wejangan atau cercaan lebih tepatnya.

Tapi bagaimana jika bertemu teman lama di kasir di supermarket milik Trans Group dan mendengar teman kita yang lagi transaksi di kasir sebelah berteriak bertanya “Kapan kawin” saat kita lagi mau bayar barang yang dibeli dan membuat orang lain menoleh ke arah kita seolah kita bersalah dengan itu.

Tidak ada salah dengan pertanyaan “Kapan Kawin” tapi yang salah adalah caranya berteriak di ruang publik dan langsung mengolok-olok setelah mendengar belum kawin “aku saja sudah dua dan si E yang lebih tomboy dari kamu saja sudah menikah”

Apakah salah jika akhirnya aku menjawab “kalau pertanyaan kapan kawin itu semudah menjawab kapan makan di Sushi Tei atau kapan main di Bird Park, aku bisa dengan tegas menjawab besok atau lusa”

Hei kawan jangan memperolok temanmu atau siapapun yang kau kenal karena dia belum menikah atau belum punya anak.

Kadang dalam hati bertanya, “Sampai kapan kalian bertanya kapan aku akan menikah?” Tidakkah kalian bosan mengulang-ulang pertanyaan yang sama setiap kali kita bertemu, padahal ada hal-hal lain yang bisa kita perbincangkan serta tidak melukai perasaan.

Jika pada jawaban-jawaban sebelumnya diriku berkata, “Insya Allah segera, doakan saja,” bolehkah kali ini aku akan menjawab pertanyaan kalian dengan sebentuk tanya “Kapan dirimu meninggal dunia?” Barangkali dirimu akan berpikir betapa kejamnya diriku karena melontarkan pertanyaan itu. Tetapi bukankah ada tiga hal yang memiliki kesejajaran rahasia di sisi Allah, yaitu jodoh, maut dan rezeki, jadi untuk apa mempertanyakan hal yang menjadi kewenangan Allah dalam menjawabnya.

Jodoh itu serupa mati, tugasku bukan sekadar menjawab pertanyaan tetapi mempersiapkan diri agar diberi kepantasan mendapatkannya. Kalau mau bijaksana, harusnya kalian mengerti bahwa suatu ketika saat Allah yakin diriku mampu menerima amanah berumah tangga, niscaya kesempatan itu tak akan kusia-siakan. Karena aku percaya pada akhirnya langkahku dalam mencari jodoh akan berhenti pada seseorang yang juga bersedia menghentikan langkah pencariannya. Pada saat itu, kami saling meyakini sudah saatnya merasa cukup sebab telah saling menemukan.

Aku begitu ingin menikah sejak umur 21 saat masih kuliah tapi Allah masih memberiku kesempatan belajar mempersiapkan diri untum pernikahan itu.

Kawan, aku mengerti kalian peduli padaku. Tetapi, tidakkah kalian sadari bahwa setelah proses saling menemukan kemudian memutuskan berumah tangga, masih banyak pencarian-pencarian yang jauh lebih penting. Mulai dari pencarian kesadaran berkarib ajar kasih sayang, mendoakan satu sama lain, mengasuh dan membersarkan anak-anak dengan bekal agama, menyelaraskan kerukunan antar mertua, menciptakan teladan bagi masyarakat. Adakah semua itu sudah kalian tunaikan, atau justru kalian masih mengeja namun seolah-olah sudah menguasai segalanya?

Semakin banyak kalian bertanya, “Kapan menikah?” Justru diriku curiga pada pernikahan kalian. Jangan-jangan ada sebentuk sesal setelah menikah, sehingga kalian butuh teman senasib sepenanggungan untuk mengingat indahnya masa-masa melajang?

Sudahlah, nikmati saja pernikahan kalian sebab aku juga sedang menikmati masa-masa mempersiapkan diri sebelum Allah memberi amanah melakukan pernikahan. Bukankah menikah ialah kesempurnaan separuh agama, jadi pedomanilah firman-Nya “Untukmu agamamu, untukku agamaku,” yang dalam hal ini kumaksudkan ‘uruslah rumah tanggamu, kelak aku juga akan mengurus rumah tanggaku.’ Agar kesempurnaan agama yang digariskan melalui pernikahan benar-benar dapat terlaksana. Besar harapku, semoga kalian mengerti kiranya.  at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

Banyak yang ketika masih sendiri, nikmat sekali mendekati Illahi Rabbi
Bangun untuk bersujud, sholat diawal waktu
Tadabburi Al-Quran, mengunjungi majelis ilmu
Selalu melafaskan zikir pagi petang, tak lupa mengerjakan shaum sunnah

Namun ketika dipertemukan dengan seseorang
Rasa cinta kepada Allah semakin berkurang
Rasa takut kepada Allah semakin tiada
Rasa ingin mati dalam mengingat Allah semakin dilupakan

Kadang kala kita lupa
Saat Allah menghadirkan kesendirian bagi kita
Bukan karena Allah tidak mendengar doa yang kita rintihkan
Namun Allah paham kala kita diberi sesuatu kita belum mampu untuk memikulnya.

Berdoalah kepada-Nya

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ya Allah..
Jatuh cinta kan lah aku kepada seseorang yang akan membuat aku semakin mencintai-Mu…
Yang akan membuat aku semakin rindu pada-Mu…
Yang akan dapat menjadi pendampingku di dunia, hingga ke surga-Mu.

Ya Rahman
Jatuh cinta kan lah aku kepada hamba-Mu yang akan membuatku selalu ingat kepada-Mu.
Dan mengakhiri kesendirianku untuk beribadah hanya kepada-Mu.

Ya Rahim
Jatuh cinta kan lah aku dalam kebaikan dan jadikanlah cinta itu adalah cinta yang halal untuk kunikmati sampai aku bertemu kembali kepada-Mu .

Aamiin Ya Robbal’alamiin… – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path