Alhamdulillah Allah mengirimkan dan memberikan nikmat luar biasa untuk saya hingga hari lahir saya ini

Ibu dan Ayah, saudara dan keluarga serta teman-teman yang begitu baik, sayang dan perhatian dengan saya

Terima kasih banyak untuk semua ucapan, doa dan perhatiannya yang diberikan di hari lahir saya
Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan
Semoga keberkahan 10 Muharram ini juga memberkahi kehidupan kita semua – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

Tentang Pertanyaan Kapan Nikah/Kawin

Bagi seorang lajang pertanyaan “Kapan Nikah atau “Kapan Kawin” adalah pertanyaan yang akan selalu didengar entah saat datang ke acara pernikahan teman, mulai ada yang tanya “Kapan nyusul atau sejenisnya”

Begitu juga saat datang ke acara keluarga, arisan bahkan lebaran, mulai dari om, tante, uwak, Bibi, mamang pasti akan sibuk bertanya “Kapan kawin” Mau nunggu apa lagi atau juga jangan sibuk kerja terus”

Setelah mendengar jawaban kita akan banyak ucapan-ucapan lain yang terdengar “kamu sih sibuk kerja terus” atau “kamu sih pilih-pilih”

Mungkin hati ini sudah tidak terasa lagi saat orang bertanya “Kapan Kawin” termasuk dengan wejangan atau cercaan lebih tepatnya.

Tapi bagaimana jika bertemu teman lama di kasir di supermarket milik Trans Group dan mendengar teman kita yang lagi transaksi di kasir sebelah berteriak bertanya “Kapan kawin” saat kita lagi mau bayar barang yang dibeli dan membuat orang lain menoleh ke arah kita seolah kita bersalah dengan itu.

Tidak ada salah dengan pertanyaan “Kapan Kawin” tapi yang salah adalah caranya berteriak di ruang publik dan langsung mengolok-olok setelah mendengar belum kawin “aku saja sudah dua dan si E yang lebih tomboy dari kamu saja sudah menikah”

Apakah salah jika akhirnya aku menjawab “kalau pertanyaan kapan kawin itu semudah menjawab kapan makan di Sushi Tei atau kapan main di Bird Park, aku bisa dengan tegas menjawab besok atau lusa”

Hei kawan jangan memperolok temanmu atau siapapun yang kau kenal karena dia belum menikah atau belum punya anak.

Kadang dalam hati bertanya, “Sampai kapan kalian bertanya kapan aku akan menikah?” Tidakkah kalian bosan mengulang-ulang pertanyaan yang sama setiap kali kita bertemu, padahal ada hal-hal lain yang bisa kita perbincangkan serta tidak melukai perasaan.

Jika pada jawaban-jawaban sebelumnya diriku berkata, “Insya Allah segera, doakan saja,” bolehkah kali ini aku akan menjawab pertanyaan kalian dengan sebentuk tanya “Kapan dirimu meninggal dunia?” Barangkali dirimu akan berpikir betapa kejamnya diriku karena melontarkan pertanyaan itu. Tetapi bukankah ada tiga hal yang memiliki kesejajaran rahasia di sisi Allah, yaitu jodoh, maut dan rezeki, jadi untuk apa mempertanyakan hal yang menjadi kewenangan Allah dalam menjawabnya.

Jodoh itu serupa mati, tugasku bukan sekadar menjawab pertanyaan tetapi mempersiapkan diri agar diberi kepantasan mendapatkannya. Kalau mau bijaksana, harusnya kalian mengerti bahwa suatu ketika saat Allah yakin diriku mampu menerima amanah berumah tangga, niscaya kesempatan itu tak akan kusia-siakan. Karena aku percaya pada akhirnya langkahku dalam mencari jodoh akan berhenti pada seseorang yang juga bersedia menghentikan langkah pencariannya. Pada saat itu, kami saling meyakini sudah saatnya merasa cukup sebab telah saling menemukan.

Aku begitu ingin menikah sejak umur 21 saat masih kuliah tapi Allah masih memberiku kesempatan belajar mempersiapkan diri untum pernikahan itu.

Kawan, aku mengerti kalian peduli padaku. Tetapi, tidakkah kalian sadari bahwa setelah proses saling menemukan kemudian memutuskan berumah tangga, masih banyak pencarian-pencarian yang jauh lebih penting. Mulai dari pencarian kesadaran berkarib ajar kasih sayang, mendoakan satu sama lain, mengasuh dan membersarkan anak-anak dengan bekal agama, menyelaraskan kerukunan antar mertua, menciptakan teladan bagi masyarakat. Adakah semua itu sudah kalian tunaikan, atau justru kalian masih mengeja namun seolah-olah sudah menguasai segalanya?

Semakin banyak kalian bertanya, “Kapan menikah?” Justru diriku curiga pada pernikahan kalian. Jangan-jangan ada sebentuk sesal setelah menikah, sehingga kalian butuh teman senasib sepenanggungan untuk mengingat indahnya masa-masa melajang?

Sudahlah, nikmati saja pernikahan kalian sebab aku juga sedang menikmati masa-masa mempersiapkan diri sebelum Allah memberi amanah melakukan pernikahan. Bukankah menikah ialah kesempurnaan separuh agama, jadi pedomanilah firman-Nya “Untukmu agamamu, untukku agamaku,” yang dalam hal ini kumaksudkan ‘uruslah rumah tanggamu, kelak aku juga akan mengurus rumah tanggaku.’ Agar kesempurnaan agama yang digariskan melalui pernikahan benar-benar dapat terlaksana. Besar harapku, semoga kalian mengerti kiranya.  at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

Banyak yang ketika masih sendiri, nikmat sekali mendekati Illahi Rabbi
Bangun untuk bersujud, sholat diawal waktu
Tadabburi Al-Quran, mengunjungi majelis ilmu
Selalu melafaskan zikir pagi petang, tak lupa mengerjakan shaum sunnah

Namun ketika dipertemukan dengan seseorang
Rasa cinta kepada Allah semakin berkurang
Rasa takut kepada Allah semakin tiada
Rasa ingin mati dalam mengingat Allah semakin dilupakan

Kadang kala kita lupa
Saat Allah menghadirkan kesendirian bagi kita
Bukan karena Allah tidak mendengar doa yang kita rintihkan
Namun Allah paham kala kita diberi sesuatu kita belum mampu untuk memikulnya.

Berdoalah kepada-Nya

Bismillahirrahmaanirrahiim

Ya Allah..
Jatuh cinta kan lah aku kepada seseorang yang akan membuat aku semakin mencintai-Mu…
Yang akan membuat aku semakin rindu pada-Mu…
Yang akan dapat menjadi pendampingku di dunia, hingga ke surga-Mu.

Ya Rahman
Jatuh cinta kan lah aku kepada hamba-Mu yang akan membuatku selalu ingat kepada-Mu.
Dan mengakhiri kesendirianku untuk beribadah hanya kepada-Mu.

Ya Rahim
Jatuh cinta kan lah aku dalam kebaikan dan jadikanlah cinta itu adalah cinta yang halal untuk kunikmati sampai aku bertemu kembali kepada-Mu .

Aamiin Ya Robbal’alamiin… – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

“Bersabarlah dalam penantian, sebagaimana sabarnya Nabi Ibrahim | tatkala meminta pada Allah keturunan, lalu Allah anugerahkan padanya Nabi Ismail
bersabarlah dalam usaha, sebagaimana sabarnya Bunda Hajar dan Nabi Ismail | tatkala ditinggal suaminya tanpa bekal, lalu Allah karuniakan pada mereka air zamzam

Bersabarlah dalam ujian, sebagaimana sabarnya Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim | tatkala Allah meminta nyawanya, lalu Allah selamatkan mereka, dan Allah berkahi keturunan mereka

Bersabarlah dalam dakwah, sebagaimana sabarnya Nabi Muhammad | tatkala harus difitnah, diancam, diusir, dicaci, dilempari, disakiti, lalu Allah muliakan namanya di langit dan di bumi

Bersabarlah dalam kelapangan, sebagaimana sabarnya Nabi Sulaiman | yang Allah uji dengan kekayaan yang tak pernah diberi pada siapapun jua, dan dia tak pernah merasa memiliki selain berucap – Ini hanya karunia dari Tuhanku!

Bersabarlah dalam kesakitan, sebagaimana sabarnya Nabi Ayyub | yang Allah uji dengan badan dan jiwa, harta dan keluarga, lalu Allah tinggikan derajatnya di surga

Bersabarlah dengan cara apapun, karena malaikat di surga nanti akan mengucapkan “salam keselamatan pada kalian, tersebab kesabaran kalian”

yaitu syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (QS 13: 23-24)”

Mudah-mudahan renungan ini bisa mengingatkan kita semua … – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

Allahuma Shalli ‘Aala Muhammad

Semoga Shalawat itu akan tetap berdengung
Hingga akhir masa nanti.
Ber abad-abad sudah berlalu
Namun namamu masih melekat di hatiku

Tak pernah aku bertemu atau berjumpa denganmu
Tak pernah aku melihat langsung dakwahmu
Namun sinar cahayamu itu mampu menembus ruang dan waktu
Menembus perbedaan di antara seluruh umat manusia
Cahaya itu tidak pernah redup sampai akhir jaman

Rasulullah SAW Begitu agung namamu
Bergetar hati ini, menangis, rindu bertemu denganmu
Rindu pada suri tauladan yang kau berikan
Rindu pada kesederhanaan dan kepedulianmu
Rindu pada kedamaian yang kau ciptakan

Rasulullah SAW, Rindu pada kepemimpinanmu
Cinta dan sayangmu tiada tara
Rahmatal lil alamin , memang itulah dirimu
Umatmu sudah banyak yang menjauhi suri tauladanmu
Banyak yang sudah berubah dari koridor garis awal
pun saya merasa demikian

Rasulullah SAW, aku rindu padamu
Kami rindu padamu

Rasulullah Nabi Muhammad SAW
Aku yakin sinar yang kau bawa tak akan pernah padam

Allahuma Shalli ‘Aala Muhammad

Semoga Shalawat itu akan tetap berdengung
Hingga akhir masa nanti.

Ya nabi ya Rasulullah
Cahaya hati kami, Kekasih ALLAH
Anta Syamsun, Anta Badrun
Anta Nurun Fauqo Nuri

Kaulah surya yang menyinari kelamnya hati manusia
Kaulah purnama penerang gelapnya jiwa manusia
Engkaulah cahaya di atas cahaya

Ya Nabiyallah, Ya Habiballah
Bagai cahaya kemuliaan AL QURAN
Besarnya perjuanganmu menegakan agama
Agungnya cintamu menyayangi sesama
Harum senyummu pada wajah dunia
Betapa ramah sikapmu tertanam dalam jiwa

Ya Nabiyaallah Ya HabibALLAH
Betapa indah akhlakmu
Bagai cahaya keindahan AL QURAN
Rindu kami padamu sepanjang waktu
Engkaulah cermin bagi hidup kami
Engkaulah petunjuk perjalanan kami
Engkaulah mata hati dan pikiran kami
Wahai teladan yang tak pernah padam

Ya nabiyallah, Ya HabibALLAH
Betapa suci akhlakmu
Bagai cahaya kesucian AL QURAN
Hadirkanlah cintamu dalam ibadah kami
Ajarkanlah ketabahanmu dalam doa kami
Mengalirlah jihadmu dalam hati kami
Anta Syamsun, Anta Badrun
Anta nurun , Fauqo Nuri
Engkaulah Surya , Engkaulah Purnama
Engkau Cahaya di atas Cahaya

Ya Rasulullah
Ajarkan ketabahanmu dalam doa kami
Alirkan jidahmu dalam hati kami
Tumbuhkan Ahklakmu dalam hidup kami

Ya nabi ya Rasulullah
Pujaan hati kami , Kekasih ALLAH
Anta Syamsun, Anta Badrun
Anta nurun , Fauqo Nuri
Engkaulah Surya , Engkaulah Purnama
Engkau Cahaya di atas Cahaya – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path

Yeaaa…
Alhamdulillah 🙏
Liputan Metropolis PalTV terpilih sebagai Program Berita Televisi Terbaik 2015 💖
Trophy ini milik kita semua, untuk video journalist yang mencari berita, editor yang mengedit berita, cameramen yang bertugas di studio, presenter yang membacakan berita, bagian sub control room, MCR, teknik, transmisi, marketing, management PalTV dan tentunya seluruh pemirsa PalTV 💐 – at The Aryaduta Hotel & Convention Center

View on Path

Sudah lah…
Usap air matamu,
Itu sangat mudah untuk menahan hati yang sendu,
Jika masih dirasa pedih tak terbendung,
Sempatkan diri mengadu,
Hempaskan sajadah yang begitu teduh,
Ambil lah air untuk berwudhu,
Sampaikan segala luka yang telah lama menyelimutimu.

Jangan kau untai dalam sosial media,
Atau bahkan membalas sakit dengan kata,
Atau mendendam hingga tak kunjung reda,
Atau membalas dengan luka yang sama,
Semua itu tidak akan membuatmu lebih mulia,
Namun jelas berarti sama dengannya.

Tunjukkan pada sang pembuat luka,
Bahwa jiwamu lebih indah dan pemaaf daripadanya,
Lebih istimewa dan kuat dibandingkannya,
Lebih teduh dan menyenangkan untuk semua.

Oleh sebab itu,
Jika ada yang memberi luka dan kecewa dalam kalbu,
Cukup sampaikan kepada Sang Pemberi Petunjuk,
Agar hati kembali tunduk,
Dan tidak harus memberontak tak tentu.

Karena wanita yang tegar,
Tak kan lemah oleh hujatan manusia yang hanya sekedar,
Dan tak kan jatuh hanya karena luka yang perlahan melebar,
Namun akan menepis semua pesakitan,
Dengan keikhlasan senyuman,
Dan memasrahkan segala rasa kepada Allah dengan penuh keridhoan. – at Rumah Keluarga Gitok

View on Path