Tentang Sang Pencerah

Sang Pencerah menceritakan kisah awal perjuangan K.H. Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah. Film ini bercerita tentang perjuangan, semangat, patriotisme, pemikiran dan tentang pilihan.

Jujur sebagai saya menikmati film yang mengambil setting di Yogyakarta pada akhir abad ke-19.

Pemainnya Lukman Sardi dan Ikhsan Idol yang menjadi KH Ahmad Dahlan, memang tampil cemerlang didukung penampilan Slamet Rahardjo Djarot dan Giring Nidji.

Ini merupakan sejarah berdirinya Muhammadiyah pada 12 November 1912. KH Ahmad Dahlan dibantu 5 muridnya (Sudjak, Fachrudin, Hisyam, Syarkawi, Abdul Ghani) dan didukung Siti Walidah (Zaskia Adia Mecca), istrinya.

Ahmad Dahlan ingin menegakkan pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah (sesat) pelaksanaan syariat Islam yang melenceng ke arah Bid’ah /sesat dari kemurnian ajaran Islam.

Melalui Langgar – nya Ahmad Dahlan  setelah berganti nama dari Muhammad Darwis saat pulang haji, mengawali pergerakan dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan seorang kyai penjaga tradisi, Kyai Penghulu Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) sehingga surau Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai Kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda.

Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kauman itu surut.

Dibalik semua kontroversinya, ‘Sang Pencerah’ adalah sebuah film sejarah yang dibuat dengan  nilai produksi di atas rata-rata yang bisa menjadi pelajaran di masa kini.

Ingin Dikenang Seperti Apakah Kita Nanti?

Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir, rezeki, maut dan jodoh karena itu semua rahasia Allah. Tapi ada catatan penting yang membuat ingin menuliskan cerita ini.

Ingin dikenang seperti apakah kita nanti?

Entah oleh saudara, orang tua, anak, teman, kolega, atau mungkin musuh kita.

Peristiwa meninggalnya kak Asep (Arsep Pajario, wartawan Sriwijaya Post yang ditemukan meninggal secara mengenaskan, Jumat (17/9) silam membuatku berpikir, bagaimana aku mati nantinya?.

Semoga nanti, aku akan mati dalam keadaan husnul khotimah. Bahkan meski telah tiada, aku tetap memberikan manfaat sebanyak-banyaknya. Aku ingin mendirikan rumah asuh bagi para anak yatim, membantu kaum dhuafa dan masih banyak lainnya. Amien Ya Robb…

…dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok(QS. Al-Hasyr : 18)

Apa yang kita lakukan dan perbuat hari ini tentunya juga mampu memberikan manfaat, kebaikan dan kemaslahatan umat.

Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People mengemukakan apa yang kita perbuat harus menuju tujuan akhir. Tentunya ini akan mengarahkan kita untuk berbuat yang terbaik bagi semuanya bukan bagi kita.

Yang kita butuhkan adalah pahala dari Allah atas kerja di dunia, amal jariyah saat segala amal telah terputus bersamaan dengan putusnya hubungan kita dengan dunia.

Ini hanya dapat kita raih jika memiliki tujuan, niat yang benar. Lillaahi ta’ala. Bahwa mereka amanah Allah, dan karenanya kita menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Hidup ini hanya sebentar dan hanya persinggahan semata, semoga kita memiliki bekal untuk menuju kehidupan abadi.