Tentang Pertanyaan Kapan Nikah/Kawin

Bagi seorang lajang pertanyaan “Kapan Nikah atau “Kapan Kawin” adalah pertanyaan yang akan selalu didengar entah saat datang ke acara pernikahan teman, mulai ada yang tanya “Kapan nyusul atau sejenisnya”

Begitu juga saat datang ke acara keluarga, arisan bahkan lebaran, mulai dari om, tante, uwak, Bibi, mamang pasti akan sibuk bertanya “Kapan kawin” Mau nunggu apa lagi atau juga jangan sibuk kerja terus”

Setelah mendengar jawaban kita akan banyak ucapan-ucapan lain yang terdengar “kamu sih sibuk kerja terus” atau “kamu sih pilih-pilih”

Mungkin hati ini sudah tidak terasa lagi saat orang bertanya “Kapan Kawin” termasuk dengan wejangan atau cercaan lebih tepatnya.

Tapi bagaimana jika bertemu teman lama di kasir di supermarket milik Trans Group dan mendengar teman kita yang lagi transaksi di kasir sebelah berteriak bertanya “Kapan kawin” saat kita lagi mau bayar barang yang dibeli dan membuat orang lain menoleh ke arah kita seolah kita bersalah dengan itu.

Tidak ada salah dengan pertanyaan “Kapan Kawin” tapi yang salah adalah caranya berteriak di ruang publik dan langsung mengolok-olok setelah mendengar belum kawin “aku saja sudah dua dan si E yang lebih tomboy dari kamu saja sudah menikah”

Apakah salah jika akhirnya aku menjawab “kalau pertanyaan kapan kawin itu semudah menjawab kapan makan di Sushi Tei atau kapan main di Bird Park, aku bisa dengan tegas menjawab besok atau lusa”

Hei kawan jangan memperolok temanmu atau siapapun yang kau kenal karena dia belum menikah atau belum punya anak.

Kadang dalam hati bertanya, “Sampai kapan kalian bertanya kapan aku akan menikah?” Tidakkah kalian bosan mengulang-ulang pertanyaan yang sama setiap kali kita bertemu, padahal ada hal-hal lain yang bisa kita perbincangkan serta tidak melukai perasaan.

Jika pada jawaban-jawaban sebelumnya diriku berkata, “Insya Allah segera, doakan saja,” bolehkah kali ini aku akan menjawab pertanyaan kalian dengan sebentuk tanya “Kapan dirimu meninggal dunia?” Barangkali dirimu akan berpikir betapa kejamnya diriku karena melontarkan pertanyaan itu. Tetapi bukankah ada tiga hal yang memiliki kesejajaran rahasia di sisi Allah, yaitu jodoh, maut dan rezeki, jadi untuk apa mempertanyakan hal yang menjadi kewenangan Allah dalam menjawabnya.

Jodoh itu serupa mati, tugasku bukan sekadar menjawab pertanyaan tetapi mempersiapkan diri agar diberi kepantasan mendapatkannya. Kalau mau bijaksana, harusnya kalian mengerti bahwa suatu ketika saat Allah yakin diriku mampu menerima amanah berumah tangga, niscaya kesempatan itu tak akan kusia-siakan. Karena aku percaya pada akhirnya langkahku dalam mencari jodoh akan berhenti pada seseorang yang juga bersedia menghentikan langkah pencariannya. Pada saat itu, kami saling meyakini sudah saatnya merasa cukup sebab telah saling menemukan.

Aku begitu ingin menikah sejak umur 21 saat masih kuliah tapi Allah masih memberiku kesempatan belajar mempersiapkan diri untum pernikahan itu.

Kawan, aku mengerti kalian peduli padaku. Tetapi, tidakkah kalian sadari bahwa setelah proses saling menemukan kemudian memutuskan berumah tangga, masih banyak pencarian-pencarian yang jauh lebih penting. Mulai dari pencarian kesadaran berkarib ajar kasih sayang, mendoakan satu sama lain, mengasuh dan membersarkan anak-anak dengan bekal agama, menyelaraskan kerukunan antar mertua, menciptakan teladan bagi masyarakat. Adakah semua itu sudah kalian tunaikan, atau justru kalian masih mengeja namun seolah-olah sudah menguasai segalanya?

Semakin banyak kalian bertanya, “Kapan menikah?” Justru diriku curiga pada pernikahan kalian. Jangan-jangan ada sebentuk sesal setelah menikah, sehingga kalian butuh teman senasib sepenanggungan untuk mengingat indahnya masa-masa melajang?

Sudahlah, nikmati saja pernikahan kalian sebab aku juga sedang menikmati masa-masa mempersiapkan diri sebelum Allah memberi amanah melakukan pernikahan. Bukankah menikah ialah kesempurnaan separuh agama, jadi pedomanilah firman-Nya “Untukmu agamamu, untukku agamaku,” yang dalam hal ini kumaksudkan ‘uruslah rumah tanggamu, kelak aku juga akan mengurus rumah tanggaku.’ Agar kesempurnaan agama yang digariskan melalui pernikahan benar-benar dapat terlaksana. Besar harapku, semoga kalian mengerti kiranya.  at Rumah Keluarga Gitok

View on Path