Masa Depan

Masa depan memang tidak pasti.
Tetapi, jika Kita memastikan bahwa yang Kita pikirkan – baik, yang Kita katakan – baik, dan yang Kita lakukan – baik,
Kita tidak mungkin salah.

Masa depan Kita pasti akan baik, jika tidak segera, nanti, atau kapan pun – tetapi pasti baik.

5 Pesan Kehidupan

3 hal yang tidak bisa kembali

  • waktu
  • kata – kata
  • kesempatan

Sehingga setiap insan manusia harus hati – hati dalam memanfaatkan waktu, berkata – kata, dan menangkap kesempatan.

3 hal yang dapat menghancurkan

  • kemarahan
  • kesombongan
  • dendam

3 hal yang tidak boleh dilupakan dalam hidup

  • harapan
  • keikhlasan dalam melakukan pekerjaan
  • kejujuran

3 hal yang penting atau sangat berharga

  • kasih sayang
  • keluarga
  • teman

3 hal yang tidak pasti

  • kekayaan
  • kesuksesan
  • mimpi

3 hal membentuk karakter

  • komitmen
  • ketulusan
  • kejujuran

Dengan memperhatikan 3 hal tersebut dan menjalankan dalam kehidupan sehari – hari akan terwujudlah kesuksesan. Karena hidup adalah perjuangan, sehingga harus dibarengi kerja keras, kejujuran, dan mengadaptasi lingkungan, serta berinteraksi dengan masyarakat.

Cash and Carry

Apakah kita memang termasuk dari golongan manusia bermental “cash and carry” ?

Siapapun yang membaca tulisan ini akan bertanya ” apa itu mental “cash and carry” ?

Sebenarnya mental ini dimiliki hampir sebagian masyarakat Indonesia, Aduh… kenapa seperti itu ?

Ya… rata – rata atau kebanyakan orang Indonesia itu maunya langsung terima tunai aja , jika sudah melakukan pekerjaan, pokoknya pekerjaan itu selesai dan langsung terima uangnya.

Kata – kata ini kuterima saat mendengarkan sharing dari Profesor Slamet Widodo , Pengamat Sosiologi Universitas Sriwijaya. Menurutnya hampir sebagian besar orang Indonesia bermental “cash and carry” .

Berbeda dengan pola Barat yang mengedepankan kualitas dari pekerjaan baru mengharapkan penghasilan. Selain itu penghasilan akan datang seiring dengan hasil dari pekerjaan yang dilakukan.

Adakah kita yang bisa melakukan hal demikian, bekerja untuk suatu prestasi terbaik dan mengeyampingkan masalah DUIT / UANG atau apalah namanya itu.

Terkadang jika berbicara idealisme , sekarang idealisme sudah terlindas oleh kebutuhan hidup dan berpikir bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Jangan menutup mata dan terus mengharapkan UANG karena sesungguhnya ini sangat berbahaya karena kita bisa tergelincir di dalamnya.

So… Apakah kita bermental “cash and carry”  ?

Apa Yang Terjadi… Terjadilah!

Penggalan lirik lagu Kupu-Kupu Malam

Oh, Apa yang terjadilah… terjadilah …

yang dinyanyikan ulang oleh Ariel – Peterpan memang sangatlah pas dengan apa yang dihadapinya khususnya setelah merebaknya video mesum yang pemainnya diduga Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari.

Kejadian beredar video yang diduga ketiganya ini sangat menggemparkan Indonesia dan  menjadi topik paling hangat baik di dunia maya maupun di masyarakat. Tidak hanya anak muda, Ibu – Ibu hingga Bapak – Bapak pun berburu video ini. Semoga ketiganya dapat lebih bersabar menghadapi masalah ini.

Dan kesabaran itu lebih baik bagimu (QS:4:25)

Entah apa pun motifnya, hal ini dapat menjadi pelajaran bagi kita. Allah Maha Penyayang dengan menutupi setiap aib yang ada pada diri kita, tetapi tentunya Allah akan memberikan pelajaran jika hal tersebut sudah melampaui batas.

Allah Maha Melihat apa yang kita kerjakan di dunia ini, tetapi Allah juga Maha Pengampun dengan segala dosa dan khilaf yang telah kita lakukan.

Hidup ini seperti cermin, kita akan mendapatkan hasil dari apa yang kita perbuat, jika kebaikan tentunya kebaikan pula yang akan didapat.  Begitupun dengan keburukan akan mendapatkan keburukan pula.

Semoga kita semua dapat menjadi lebih bijaksana menyikapi hal ini, selain itu bagi siapapun lebih baik berpikir dua kali untuk  merekam atau mendokumentasikan perbuatan – perbuatan yang nantinya akan merugikan kita, keluarga ataupun orang yang berada di sekitar kita.

Apapun yang kita rekam ataupun kita foto di kamera digital baik handphone maupun kamera photo akan tetap terekam dalam handphone ataupun kamera tersebut. Meski memori telah diformat.

Jadi berhati-hatilah untuk mengabadikan momen atau kegilaan kita tersebut.

Sedikit Lebih Memahami Hidup

Di awal dibuka oleh kelahiran, di akhir ditutup dengan kematian

Hidup bukanlah tentang lahir dan mati, hidup adalah tentang kebaikan

Hidup tak semudah membalikkan telapak tangan dan,

Hidup pun tak sesulit memindahkan gunung es

Hidup bisa seabadi matahari dan hidup juga bisa sesingkat lilin

Hidup dan mati datang dan pergi silih berganti

Hari ini engkau untung, esok engkau rugi

Hari ini engkau menang, esok engkau kalah

Tapi hidup bukanlah tentang untung dan rugi

Hidup pun bukan tentang menang dan kalah

Hidup adalah tentang kebaikan … dan kebaikan

Buatlah satu kebaikan dalam satu hari

Seribu pahala akan menyinari

Buatlah satu doa dalam satu  malam

Seribu sinar akan melindungi

Di awal hati dan niat tergerak, di akhir benih kebaikan tertanam

Di awal penuh pengorbanan, di akhir penuh sukacita

Hiduplah untuk sesame mahkluk hidup

Kebaikan akan hidup bersamamu

Detik-detik Pembantaian Militer Israel terhadap Aktivis Kemanusiaan


Relawan aktivis kemanusiaan mancanegara dalam sebuah konferensi pers beberapa saat sebelum militer Israel menembaki mereka.

Nakhoda kapal bersama dengan anak laki-lakinya yang masih berusia 1 tahun ikut serta dalam rombongan armada kebebasan. Israel membabi buta melepaskan tembakan gas air mata di dalam kapal meskipun ada anak kecil di dalam.

Helikopter tempur Israel mulai mendekati kapal Mavi Marmara.

Pasukan Israel dari dalam helikopter bersiap turun ke dalam pasukan sambil melakukan penembakan secara membabi buta.

Pasukan Israel telah berada di atas kapal dan langsung melepaskan tembakan gas air mata.

Dan korban-korban mulai berguguran akibat ulah brutal militer Israel terhadap aktivis kemanusiaan yang sama sekali bukan militer dan membawa senjata.

Surat dari Kapal Mavi Marmara

Relawan untuk Gaza yang disandera Israel belum diketahui nasibnya.

Gaza Tidak Membutuhkanmu!

Di atas M/S Mavi Marmara, di Laut Tengah, 180 mil dari Pantai Gaza.

Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak kapal ini berhenti bergerak karena sejumlah alasan, terutama menanti datangnya sebuah lagi kapal dari Irlandia dan datangnya sejumlah anggota parlemen beberapa negara Eropa yang akan ikut dalam kafilah Freedom Flotilla menuju Gaza. Kami masih menanti, masih tidak pasti, sementara berita berbagai ancaman Israel berseliweran.

Ada banyak cara untuk melewatkan waktu – banyak di antara kami yang membaca Alquran, berzikir atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadist, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji bahwa para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri, para aktivis – terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya – mondar-mandir; ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia ‘tangan kanan’ seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.

Activism

Ada begitu banyak activism, heroism…Bahkan ada seorang peserta kafilah yangmengenakan T-Shirt yang di bagian dadanya bertuliskan ‘Heroes of Islam’ alias ‘Para Pahlawan Islam’. Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah Ta’ala.

Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar sementara para peserta lain tidak. Yang berposisi penting di negeri asal, misalnya anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya’ akan menyelusup, na’udzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini bukan saja akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terhempas ke pantai, tapi bahkan menjadi lebih hina karena menjadi sumber amarah Allah Ta’ala.

Mengerem

Dari waktu ke waktu, ketika kesibukan dan kegelisahan memikirkan pekejaan menyita kesempatan untuk duduk merenung dan tafakkur, sungguh perlu bagiku untuk mengerem dan mengingatkan diri sendiri. Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidak-ikhlasan dan riya’? Kau pernah berada dalam situasi ketika orang menganggapmu berharga, ucapanmu patut didengar, hanya karena posisimu di sebuah penerbitan? And where did that lead you? Had that situation led you to Allah, to Allah’s blessing and pleasure, or had all those times brought you Allah’s anger and displeasure?

Kalau hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di  sini. Mulai dari Presiden IHH Fahmi Bulent Yildirim sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang tidak banyak berbicara selain sibuk membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang dan malam pada waktunya… Dari para ‘ulama terkemuka di atas kapal ini, sampai beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau  hanya sekedar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, Subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.

Semua berteriak, ‘Untuk Gaza!’ namun siapakah di antara mereka yang teriakannya memenangkan ridha Allah? Hanya Allah yang tahu.

Gaza Tak Butuh Aku

Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.

Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagiNya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullah-lah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hambaNya yang bergerak – betapa pun sedikitnya – menolong agamaNya. Menolong membebaskan Al-Quds.

Sungguh mudah menjeritkan slogan-slogan, Bir ruh, bid dam, nafdika ya Aqsha… Bir ruh bid dam, nafdika ya Gaza!

Namun sungguh sulit memelihara kesamaan antara seruan lisan dengan seruan hati.

Cara Allah Mengingatkan

Aku berusaha mengingatkan diriku selalu. Namun Allah selalu punya cara terbaik untuk mengingatkan aku.

Pagi ini aku ke kamar mandi untuk membersihkan diri sekedarnya – karena tak mungkin mandi di tempat dengan air terbatas seperti ini, betapa pun gerah dan bau asemnya tubuhku.

Begitu masuk ke salah satu bilik, ternyata toilet jongkok yang dioperasikan dengan sistem vacuum seperti di pesawat itu dalam keadaan mampheeeeet karena ada dua potongan kuning coklaaat…menyumbat lubangnya! Apa yang harus kulakukan? Masih ada satu bilik dengan toilet yang berfungsi, namun kalau kulakukan itu, alangkah tak bertanggung-jawabnya aku rasanya? Kalau aku mengajarkan kepada anak-anak bahwa apa pun yang kita lakukan untuk membantu mereka yang fii sabilillah akan dihitung sebagai amal fii sabilillah, maka bukankah sekarang waktunya aku melaksanakan apa yang kuceramahkan?

Entah berapa kali kutekan tombol flush, tak berhasil. Kotoran itu ndableg bertahan di situ. Kukosongkan sebuah keranjang sampah dan kuisi dengan  air sebanyak mungkin – sesuatu yang sebenarnya terlarang karena semua peserta kafilah sudah diperingatkan untuk menghemat air – lalu kusiramkan ke toilet.

Masih ndableg.

Kucoba lagi menyiram…

Masih ndableg.

Tidak ada cara lain. Aku harus menggunakan tanganku sendiri…

Kubungkus tanganku dengan tas plastik. Kupencet sekali lagi tombol flush. Sambil sedikit melengos dan menahan nafas, kudorong tangan kiriku ke lubang toilet…

Blus!

Si kotoran ndableg itu pun hilang disedot pipa entah kemana…

Lebih dari 10 menit kemudian kupakai untuk membersihkan diriku sebaik mungkin sebelum kembali ke ruang perempuan, namun tetap saja aku merasa tak bersih. Bukan di badan, mungkin, tapi di pikiranku, di jiwaku.

Ada peringatan Allah di dalam kejadian tadi – agar aku berendah-hati, agar aku ingat bahwa sehebat dan sepenting apa pun tampaknya tugas dan pekerjaanku, bila kulakukan tanpa keikhlasan, maka tak ada artinya atau bahkan lebih hina daripada mendorong kotoran ndableg tadi.

Allahumaj’alni minat tawwabiin…

Allahumaj’alni minal mutatahirin…

Allahumaj’alni min ibadikas-salihin…

29 Mei 2010, 22:20

Santi Soekanto

Ibu rumah tangga dan wartawan yang ikut dalam kafilah Freedom Flotilla to Gaza Mei 2010.

Catatan ini beredar di milis-milis dan facebook mengatasnamakan Santi Soekanto. Santi bersama suaminya Dzikurullah Ramudya masuk sebagai WNI yang dikabarkan ikut menjadi penumpang kapal Mavi Marmara, kapal kemanusiaan untuk Gaza yang diserang Israel.

Keluarganya mengakui keduanya hilang kontak sejak Senin (31/5) shubuh. Hingga saat ini pihak keluarga belum mendapatkan informasi soal Santi dan suaminya itu. Sebelumnya, Santi pernah menjadi reporter Jakarta Post, dan kemudian aktif di berbagai aktivitas sosial.