Emosi dan Belanja

Emosi dan belanja adalah dua hal yang berbeda, tapi saat tekanan emosi anda sedang tinggi alias naik darah, belanja menjadi salah satu solusi penenang jiwa. Hal ini terjadi pada saya hari ini, seperti biasa saya melakukan rutinitas liputan, kali ini yang berhubungan dengan Valentine, saya meliput butik cokelat dan boneka di mall tempat kantor saya berada.

Seperti biasa tanpa meminta izin karena 5 tahun sudah berjalan kebiasaan seperti itu, saya sibuk mengambil gambar dan wawancara, dan tiba-tiba ditengah aktivitas meliput ada seorang satpam datang menghampiri saya dan menanyakan surat tugas.

“Apa, surat tugas, biasanya saya tidak pernah membawa surat tugas, apalagi mall ini kan sudah seperti rumah kami, karena kantor kami juga disini”.

“Kantor anda, kan cuma menumpang”

“Hellow… mas, kita sudah membeli bangunan tersebut ya, membeli bukan menumpang”.

“Ya pokoknya mbak harus ikut kita ke pos, untuk menjelaskan maksud mbak mengambil gambar”.

Wah, malu banget tuh, digiring kayak pencuri saja, tapi saya masih berusaha tenang, hingga tiba di pos satpam, sekitar setengah jam saya menunggu dan berdebat dengan satpam juga disana. Sampai kata-kata si satpam itu membuat telinga  langsung panas dan menyulut otak serta dada saya.

“Bisa cepetan gak, disini ada taruna”

“Mas, saya bukan tangkepan, bukan saya gak tahu arti taruna itu apa, saya bukan pencuri, saya ini sedang tugas meliput, toh saya juga membantu mempromosikan teenant”

“Ya mbak, tapi setiap pengambilan gambar , wawancara atau liputan harus ada izin dari manajemen”

Cukup lama berdebat, dateng juga si Satpam lainnya dan mengatakan hal yang sama… Aduh setengah jam mendengarkan omongan yang sama, telinga saya sudah tambah tebal beberapa centi nih.

“Oke, kita temui manajemen mall saja, biar masalah ini cepat selesai”

Saya pun mengambil inisiatip untuk bertemu dengan manajemen mall tersebut, eh tahu gak saya malah dihadapkan dengan Markom-nya aja, disuruh menunggu lagi hingga 15 menitan. Akhirnya si pegawai menyambungkan telepon dengan atasannya. Saya pun menjelaskan duduk persoalannya. Saya malah makin emosi jika ini bukan peraturan baru tapi sudah lama.

“Bapak yang baik hati, jika ini peraturan yang sudah lama ditetapkan manajemen mall , kenapa tidak menempelkan peraturan tersebut didepan pintu masuk, sehingga biar semua wartawan, fotografer ataupun kameramen tahu ada peraturan tersebut di mall ini. Lagian kenapa mall ini selalu kami ekspos, karena kami sudah menganggap mall ini seperti rumah kami, toh tak ada salahnya mempromosikan rumah sendiri biar pengunjungnya tambah rame. Dan yang paling buat saya sakit hati, saya tadi dibawa seperti pencuri, dibilang taruna … aduh… tapi ya sudahlah saya minta maaf  atas kesalah pahaman ini”

“Maaf  ini dengan mbak siapa ya ”

“Saya Suzan pak”

“Kita bisa bertemu gak, mbak langsung ke lantai 3 aja”

“Aduh pak, mohon maaf saya sudah diburu deadline, terima kasih sekali lagi pak”

Alasan saya tidak mau bertemu karena dia sendiri dari awal tidak memberikan kesempatan pada saya untuk bertemu langsung dengannya. Jika anda menghargai orang lain, maka orang lain akan menghargai anda. Begitupun saya dengan bapak itu… (pssssttt… namanya rahasia :D) karena dia hanya memberikan ruang bagi saya ditelpon dan tidak menghargai saya , saya pun berlaku sama.

Wuiiii… panjang … hihihi…. masih emosi 😀

Usai dari sana saya pun mampir ke Gramedia, mencari titipan dari Mbak Truly yang minta dibelikan buku Kompor Mleduk Benyamin S. Tapi akhirnya saya malah kalap melihat buku diskon terbitan  Mizan. Setelah sibuk memilih sekitar 15 menit saya pun ke kasir. Wah, memang belanja itu menenangkan saya yang sedang naik pitam tapi sayang malah tidak menenangkan  dompet saya heheheheh :D.

Emosi dan Belanja

Inilah hasil kalap saya dengan buku-buku, saya pun buka lapak di kantor sambil menceritakan kisah diatas hehheehh 😀