May Day ! May Day ! May Day !

Tidak terasa hari ini kembali lagi … May Day

Rasanya baru kemarin meneriakkan perubahan dan perbaikan kesejahteraan kaum buruh. Ya, saya adalah seorang buruh…

Aksi setahun yang lalu, masih menyisakan torehan perubahan, namun sayang itu adalah perubahan yang menyakitkan, karena di tahun ini , saya tidak lagi bersama teman seperjuangan.

Aaaaggghrrrr… teman – teman seperjuangan yang kini memilih jalan sendiri.

Hidup adalah pilihan, bungkam atau bicara adalah pilihan, bertahan atau bergerak juga pilihan.

Usai membaca email yang masuk ke kotak suratku … MENUNTUT = MEMINTA + KESUNGGUHAN

Anda harus menetapkan standar kualitas untuk yang dapat Anda terima dalam karir dan kehidupan pribadi Anda. Jika tidak, Anda akan sering diharuskan menerima apa adanya.

Padahal, menerima apa adanya bukanlah sikap yang mewakili keberserahan kepada Tuhan.

Karena mengupayakan tercapainya yang TERBAIK, adalah sikap orang yang mensyukuri apa pun yang telah ada pada dirinya, UNTUK mencapai yang LEBIH BAIK bagi dirinya, keluarganya, dan bagi sebanyak-mungkin orang lain.

Anda harus menuntut pencapaian yang terbaik dari pekerjaan Anda, jika tidak – tuntutan yang sama AKAN ditetapkan oleh orang lain kepada Anda.

Dan mungkin, tidak ada orang yang lebih disia-siakan hidupnya, daripada dia yang diharuskan menerima apa adanya, saat yang lebih baik masih mungkin baginya

Jika yang lebih baik bagimu – masih mungkin, mengapakah engkau berhenti pada yang cukup?

Bukankah kebutuhan hidupmu tumbuh, dan segera menjadikan yang tadinya cukup bagimu itu – sekarang kurang?

Janganlah engkau bersikap seperti rendah hati dan bersahaja, tetapi yang sebetulnya adalah topeng dari hati malas mu.

Di atas bumi ini berserakan rezeki Tuhan mu, yang disediakan untukmu, dan yang akan kau temukan jika engkau mencari.

Bukankah engkau telah meminta? Dan bukankah untuk yang meminta, sudah disiapkan pemberian? Dan bukankah sebetulnya telah banyak sekali pemberian yang kau terima, yang sebetulnya belum pernah kau minta?

Tetapi, lebih sering daripada tidak – engkau berhenti sejengkal dari hadiahmu, berdiri di atas bungkusan penyejahteraan diri dan keluargamu; tetapi engkau sedang asyik menengokkan wajah iri mu ke arah orang-orang yang dengan penuh kesyukuran menunduk dan memungut hadiah-hadiah mereka.

Engkau hanya akan mendapat yang kau tuntut.

Orang yang meminta, tidak pernah se-bersungguh-sungguh orang yang menuntut.

Karena,

Jika engkau menuntut, engkau akan menambahkan kesungguhan pada permintaanmu.

Engkau akan merajinkan diri. Engkau akan mengisi waktumu dengan pekerjaan yang bernilai. Engkau akan menjadikan hubunganmu dengan orang lain sebagai kesempatan untuk menyampaikan keuntungan. Engkau akan menjadikan kehadiranmu sebagai pengindah perasaan orang lain.

Engkau akan ikhlas dalam bekerja, dan berserah dalam menunggu hasil dari upayamu.

Dengannya, engkau mendapat yang kau minta dengan kesungguhan. Jika engkau bersungguh-sungguh mengupayakan yang terbaik, engkau akan mendapatkan yang terbaik.

Sehingga, Engkau hanya akan mendapat yang kau tuntut.

Dan karena keikhlasan hatimu untuk melayani bagi kebahagiaan saudara dan sahabatmu,  dan karena kesabaranmu dalam mengatasi kesulitan dan cobaan,  engkau menjadi jiwa yang pantas menuntut.

Dan yang pantas menuntut, akan mendapatkan yang dituntutnya,  dan yang dilebihkan rahmat baginya karena keikhlasannya dalam menjadikan Tuhan sebagai penghitung bagi kebaikan  yang dilebihkannya bagi sesama.

Menuntut adalah meminta dengan kesungguhan yang penuh.

Maka… Jadilah pribadi yang pantas untuk menuntut yang terbaik.

Karena, Dia yang menuntut yang terbaik, akan mendapatkan yang terbaik


Bangun, semua buruh di dunia !
Bangkit dan naik ke atas pijakan itu
Hari ini  adalah hak Anda, milik Anda.
Tidak ada yang akan menangis untuk roti ataupun nasi
Kami punya kebebasan, cinta dan kesehatan,
Kibarkan Bendera itu
Selamat Hari Buruh Internasional.

Hachiko: A Dog’s Story “Persahabatan Sejati”

Film “Hachiko: A Dog’s Story” merupakan remake dari film aslinya Hachiko Monogotari yang dirilis tahun 1987. Film ini bercerita tentang kesetiaan seekor anjing  pada tuannya, melebihi batas kesetiaan anjing pada rata-rata.

Cerita berawal dari seekor anjing kecil yang berasal dari Jepang tiba di Stasiun Kereta Api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, menemukan Profesor Parker Wilson (Richard Gere) .  Anjing  akita ini pun dibawa  pulang ke rumah dan diberi nama Hachiko dan akhirnya dirawat hingga besar.

Parker terkejut ketika suatu saat Hachiko berada di Stasiun, ternyata Hachiko mengikutinya. Parker pun terpaksa keluar dari kereta untuk memulangkan Hachico ke rumah. Alangkah terkejutnya ketika pukul 17.00 Hachiko sudah  menjemputnya di stasiun.  Sejak saat itu Parker membiarkan Hachico mengantar-jemputnya di stasiun.

Akhirnya semua orang, penduduk kota terutama di Stasiun Bedridge menyayangi Hachiko dan selalu menyapa anjing itu layaknya sebagai manusia.

Hingga suatu hari,  Hachiko tak menemukan kedatangan tuannya di stasiun pada pukul 17.00. Pasalnya sang tuan ternyata meninggal karena serangan jantung ketika ia tengah mengajar, sementara  Hachiko sepertinya tak pernah mengerti dengan  meninggalnya Parker.

Setelah kematian Parker, Cate (Joan Allen) menjual rumahnya dan meninggalkan Bedridge. Hachiko pun dipelihara oleh anak perempuan Parker, Andy Wilson (Sarah Roemer). Karena berulang kali Hachiko kabur dari rumah Andy untuk pergi ke stasiun, berharap ia akan menemukan tuannya kembali. Hachiko pun dibiarkan mencari tuannya.  Hachiko tinggal di stasiun dan pada pukul 17.00, ia akan duduk di bundaran di depan stasiun, menanti kedatangan tuannya.

Keunikan tingkah laku Hachiko itu menarik perhatian, kisahnya menjadi legenda.  Hingga 10 tahun Kesetiaan Hachiko tak tergoyahkan, dan Hachiko pun akhirnya meninggal  di bundaran stasiun pada tengah malam pada musim dingin.

Film ini memang persis sama dengan kisah aslinya. Hachiko hidup tahun 1923-1935  di Jepang. Seorang Profesor yang mengajar di bidang pertanian bernama Hidesaburo Ueno di tahun 1924,   membawanya ke Tokyo dan memelihara Hachiko.  Setiap hari mereka selalu pergi bersama-sama. Hachiko selalu menemani Profesor Ueno ke stasiun kereta Shibuya untuk pergi mengajar di kampus, dan  menanti majikannya pulang di Stasiun.

Pada bulan Mei 1925, Profesor Ueno terserang stroke fatal saat mengajar, ia pun meninggal dunia. Hachiko yang tidak mengetahui hal itu tetap datang menjemput majikannya di stasiun Shibuya dan menunggu dengan sabar meskipun Profesor Ueno tidak akan datang lagi.

Hachiko yang selalu ada di sana pada jam yang sama, yaitu jam kedatangan kereta sore  menunggu kedatangan Profesor Ueno setiap sore hingga 10 tahun kemudian. Akhirnya pada tahun 1935, Hachiko meninggal di depan stasiun Shibuya, tepat saat kedatangan kereta sore, di tempat di mana ia selalu setia menunggu Profesor Ueno untuk pulang bersama.

Pada bulan April 1934, Pemerintah Jepang mendirikan patung Hachiko yang terbuat dari bahan perunggu tepat di depan stasiun Shibuya sebagai perlambangan kesetiaan seekor anjing kepada majikannya. Namun pada masa PD II, patung tersebut dilebur untuk keperluan perang. Akhirnya pada tahun 1948, Takeshi Ando, yang merupakan anak dari seniman pembuat patung Hachiko yang pertama, kembali membuat patung tersebut.

Selain itu, patung yang sama juga didirikan di Odate, kota kelahiran Hachiko. Patung/boneka berisi kapas yang identik dengan Hachiko pun dibuat dan sekarang berada di Japan’s National Nature and Science Museum. Pemerintah dan rakyat Jepang sangat menghargai dan sering kali mengambil contoh loyalitas Hachiko dalam segala perbuatan mereka sehari-hari.

Pada bulan Mei 1994, Japan’s Culture Broadcasting Network memutarkan rekaman yang berisi suara gonggongan Hachiko yang dahulu sempat terekam. Mereka menggunakan teknologi laser untuk memperbaiki rekaman yang sudah parah kondisinya tersebut. Rakyat Jepang akhirnya dapat mendengar suara Hachiko setelah 59 tahun kematiannya.

Saat ini, setiap tanggal 8 April, rakyat Jepang selalu memperingatinya sebagai Hari Hachiko, hari di mana manusia bisa mencontoh sikap setia seekor anjing dalam kehidupan sehari-hari.

Belum Lengkap Tanpa Coret Baju dan Konvoi

Hari ini adalah hari bersejarah bagi pelajar SMA/ SMK/ MA di seluruh Indonesia. Ternyata melepaskan tahta SMA adalah menjadi simbol tersendiri bagi mereka yang mengatakan “Aku Sudah Besar” . Benarkah… ???

Mungkin karena dulu tidak pernah merasakan bagaimana mencorat coret baju , kecuali zaman SMP, karena ketika pendidikan setingkat SMA, diriku terdampar dan menyelesaikan studi di SPK (Sekolah Perawat Kesehatan) sssttttt… jangan ketawa ya 😀

Memang di setiap pengumuman hasil ujian nasional (kelulusan) beragam ritual dilakukan. Tak lengkap rasanya jika para pelajar ini tidak melakukan aksi coret baju. Inilah “ritual” yang  selalu dilaksanakan sesaat setelah mereka mengetahui mereka berhasil lulus Ujian Nasional.

Meski telah mendapatkan larangan keras dari pihak sekolah, orang tua dan berbagai pihak lainnya termasuk pihak Dinas Pendidikan Provinsi/ Kabupaten / Kota toh  mereka tetap menyoret baju putih seragam mereka memberikan warna berbeda di hari yang bagi mereka hanya satu kali dialami dalam hidup.

Hmmmm… inilah kenyataan yang terjadi di negeri ini…

Selain aksi corat coret baju, yang tak seru dan wajib adalah aksi konvoi keliling kota dengan mengendarai kendaraan roda dua. Yupsss… aksi konvoi motor ini menjadi bentuk luapan kegembiraan mereka karena berhasil lulus Ujian Nasional.

Sayangnya konvoi kendaraan roda dua keliling kota ini kerap memberikan rasa khawatir bagi yang melihat atau pengguna jalan yang lain. Pasalnya dalam konvoi ini sebagian dari siswa atau mungkin seluruhnya ya  tidak mengenakan helm alias pengaman kepala.

Peristiwa kelulusan UN ini hanya sebagian kecil dan peralihan dari jalan hidup, kenapa harus melakukan hal yang tidak bermanfaat. Toh, pakaiannya bisa digunakan untuk adik atau kalau memang tidak memiliki adik lagi bisa disumbangkan bagi mereka yang memerlukan.

Bahkan yang lebih penting dari sekedar konvoi adalah bagaimana mensyukuri hidup dan menjaga keselamatan, karena jika kepala itu jatuh ke aspal, apa kata dunia ?

Semoga semakin banyak para pelajar yang memaknai arti kelulusan bukan sekedar dari coret baju dan konvoi kendaraan… 😀

Ruang Terbuka Hijau Habis, Siap-siap Kekurangan O2

Pesatnya pembangunan saat ini memberikan imbas bagi lingkungan. Hadirnya gedung pencakar langit ternyata mengikis keberadaan ruang terbuka hijau. Bisa kita lihat, pembangunan mall, gedung perkantoran atau lainnya banyak membabat habis lahan kota karena harus mendukung fasilitas perkotaan, mulai dari kemajuan teknologi, industri dan transportasi.

Bahkan pembangunan menyita RTH yang kerap dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Karena tingginya gedung menjadi tolok ukur keberhasilan suatu kota. Hmmm… benarkah demikian ?

Padahal semakin tingginya gedung dan banyak kendaraan menandakan pencemaran dan pemanasan global semakin meningkat.

Untuk mengatasi kondisi lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan RTH sebagai suatu teknik bioengineering dan bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman, sehat, dan menyamankan.

Pasalnya RTH yang merupakan bagian ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah perkotaan  diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) sehingga menjadi paru – paru kota dan memberikan cadangan Oksigen bagi masyarakat kota tersebut.

Sebagai contoh di Palembang, untuk mendukung pelaksanaan ajang olah raga paling bergengsi di Asia yaitu SEA GAMES XXVI 2011, Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan yang juga menjadi salah satu tuan rumah mulai melakukan banyak persiapan, terutama  mempercantik bentuk kota, merenovasi dan membangun sarana olahraga serta tidak tertinggal membangun Hotel, Mall, Restoran dan lain nya.

Salah satunya adalah kawasan Sport Hall atau GOR di Jalan A. Rivai Palembang, merupakan salah satu Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di Kota Palembang dengan luas ± 5 Ha. Kawasan ini akan diubah bentuk dan fungsinya menjadi kawasan bisnis dengan dibangun nya Hotel, Town Square, dan Café untuk mendukung pelaksanaan SEA GAMES XXVI.

Rencana Pengalih fungsian kawasan tersebut menjadi kawasan Bisnis, sesungguhnya sangat bertentangan dengan mandate UU No 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Pada salah satu pasalnya mewajibkan setiap Kota dan Kabupaten yang ada di Indonesia memiliki Ruang Terbuka Hijau(RTH) minimal 30 persen dari luas Kota, yaitu 20 persen RTH yang dibangun pemerintah untuk kepentingan Publik, dan 10 Persen RTH Private yang diwajibkan pemerintah untuk dibuat/dimiliki oleh setiap Rumah.

Kota Metropolis Palembang saat ini hanya memiliki RTH seluas 3 Persen atau sekitar 1.200 Ha, sehingga untuk mencukupi mandate tersebut harusnya pemerintah membangun sebanyak mungkin RTH, bukan malah melakukan Alih Fungsi RTH yang telah ada.


Berdasarkan catatan investigasi dan analisis yang dilakukan, jika Kawasan GOR ini di alih fungsi akan menyebabkan hilangnya 414 batang Pohon yang terdiri dari berbagai macam jenis seperti Beringin, Palem, Kelapa, Angsana, Jarak duri, Jambu, Nangka dan Tembesu. Yang selama ini 1 pohonya berfungsi sebagai penghasil oksigen (O2) sebanyak 1.2 – 1.5 Kg. Sehingga dengan jumlah pohon sebanyak 414 buah, Oksigen yang dihasilkan sebesar 0.5 – 0.6 Ton/hari, ini setara dengan kebutuhan oksigen 1.500 orang /hari. Selain itu kawasan ini juga berfungsi sebagai penyerap karbon (CO2) yang merupakan salah satu zat penyebab Pemanasan Global, sekitar 8,3 – 15 Kg/hari atau 3 – 5,4 ton/tahun.

Selayaknya pembangunan dan pengelolaan RTH wilayah perkotaan harus menjadi substansi yang terakomodasi secara hierarkial dalam perundangan dan peraturan serta pedoman bagi pembangunan di perkotaan.

Pembangunan yang baik adalah dengan tidak mengesampingkan keberadaan ruang terbuka hijau dengan terus melestarikan lingkungan bukan membabat habis setiap pohon yang memberikan sumbangan Oksigen cuma – cuma bagi kita.

Sudah siapkah kita kekurangan O2 dan menggunakan masker ?


Survei detikINET Berhadiah Netbook!

DetikInet yang memberikan  berita-berita seputar dunia teknologi informasi menyadari jika untuk menjadi lebih baik adalah dengan mendengarkan suara konsumen (pembaca). Untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya situs berita ini mengadakan survei berhadiah Netbook. Surveyor hanya  perlu menjawab beberapa pertanyaan dan lebih jelasnya langsung berkunjung ke halaman ini.

***

Berikut jawaban dari pertanyaan agar detikinet semakin memberikan informasi dan berita yang bermanfaat bagi masyarakat.

1. Apa yang Anda sukai dan tidak sukai di detikINET?

Tentu saja karena detikINET memberikan informasi tentang topik tekhnologi terkini mulai dari gadget, dunia bisnis, internet, tips dan trik, open source, hardware dan software juga diberikan secara lengkap. Apalagi berbicara soal produk terbaru, situs berita ini menyajikan keinginan konsumen yang tentunya saat ini sangat haus dengan informasi tekhnologi terbaru.

Ulasan berita yang diberikan detikinet membuat pembaca mendapatkan poin penting dari informasi yang disajikan, ringkas, padat dan menarik, terlebih yang akivitasnya banyak berhubungan dengan dunia maya. Apalagi saya yang juga bekerja di dunia jurnalis, otomatis saya merasa terbantu dengan adanya informasi yang diberikan detikinet untuk melokalkan berita yang disajikan.

Karena tentunya Palembang dan masyarakatnya juga membutuhkan informasi dari kemajuan zaman dan tekhnologi. Semoga informasi yang disajikan di detikinet lebih lengkap dengan menyajikan harga jual, dan layanan purna jual, sehingga pembaca tidak perlu mencari di tempat lain.

2. Bagaimana interface (tampilan) detikINET saat ini menurut Anda?

Menurut saya, tampilan detikINET saat ini sudah baik, baik dari tulisan dan display dari berita yang disajikan. Pemakaian font dari tulisan pun mendukung kekuatan penyajian berita. Hanya saja kenapa tampilan berita sebelumnya tidak diletakkan diatas disamping kolom headline, yang saat ini terisi kolom iklan, ya mungkin karena perhitungan dari rate card iklan.

Selain itu, jika ingin melakukan perubahan warna, apakah warna ungu akan dipertahankan. Karena warna ungu itu menandakan misteri,  transformasi, kekasaran dan keangkuhan. Alangkah baiknya jika menggunakan warna biru yang memberikan arti kepercayaan, keamanan, tehnologi, kebersihan, dan keteraturan.

Atau abu – abu yang menandakan intelek, masa depan (kayak warna Milenium) dan kesederhanaan karena warna abu – abu adalah warna yang paling gampang/mudah dilihat oleh mata.

Pemilihan warna adalah satu hal yang sangat penting dalam menentukan respon dari pengunjung. Warna adalah hal yang pertama dilihat oleh seorang pengunjung (terutama warna background), termasuk loading membuat kesan atau mood bagi pembaca.

Selain itu diharapkan penataan iklan dapat diperhatikan kembali, karena pembaca sangat tidak menyukai iklan yang bertebaran dimana-mana, kenapa tidak dibuat dalam satu line atau kolom saja.

3. Jika detikINET berubah interface, perubahan seperti apa yang Anda harapkan?

Perubahan yang diharapkan adalah penggunaan warna yang tepat, background putih ok, dengan warna perubahan ke arah biru atau abu-abu dan mengurangi warna ungu.

Berita sebelumnya dapat ditempatkan pada sisi atas sebelah kanan disamping kolom headline. Pembaca juga tentunya menginginkan agar penataan iklan dapat diperhatikan lagi. Iklan bisa diletakkan dalam satu sisi kolom.

4. Topik bahasan apa yang paling Anda sukai dari detikINET selama ini?

Topik yang paling disukai adalah tips and trick , karena setiap topik yang disajikan memberikan informasi yang berguna, karena kunci sukses adalah mengetahui jalan yang aman, jika tidak mengetahui jalan aman, ya kita harus melewatinya. Disamping tentunya adalah saya menyukai informasi berita baik dalam consumer, bussines, maupun telco, dan cyber life.

Informasi yang diberikan sangat berguna baik menunjang pekerjaan maupun aktivitas pribadi. Selain itu, informasi produk terbaru juga menjadi incaran karena setiap pecinta dunia maya pastinya  selalu ingin mengetahui produk terbaru. Meski terkadang masih belum bisa membeli dengan mengetahui saja ada kepuasan tersendiri. Apalagi jika bisa membeli produk yang benar – benar kita butuhkan bukan sekedar diinginkan saja.

5. Topik apa yang menurut Anda perlu dibahas lebih banyak di detikINET?

Topik yang telah dibahas saat ini  sudah mendukung penuh akses informasi IT, selain itu trending topic yang diberikan dalam tips and trick juga menyajikan sarat edukasi. Informasi yang perlu ditambah adalah tentunya informasi tentang software, hardware, ataupun freeware dan hal yang lebih spesifik tentang IT tentunya hal ini akan mendukung detikINET dan semakin terdepan, meminjam jargon salah satu perusahaan besar.

6. Topik apa yang menurut Anda perlu dikurangi dari detikINET?

Tentunya diharapkan tidak ada topik yang dikurangi karena setiap topik mewakili dari setiap bidang, disini pembaca bisa mendapatkan informasi produk terbaru ataupun tentang cyber crime.

7. Silahkan berikan kritik, saran, dan komentar Anda mengenai detikINET?

Sebagai seorang yang berkelana di dunia maya, membaca situs berita merupakan WAJIB hukumnya. Dan untuk menunjang pekerjaan, membaca situs berita dan termasuk mengiktui update berita terkini baik  melalui twitter atau layanan lainnya, karena tugas utama sebagai koordinator liputan berita lokal adalah bagaimana melokalkan berita nasional.

Selain itu sebagai satu kesatuan, detikINET harus ikut menunjang detik.com karena  setiap unsur atau setiap sudut harus saling menunjang. Jayalah detikINET 😀

Inovasi dan Kreativitas Belanda

Jangan pernah takut bermimpi, karena mimpi itulah akan membawa kita mencapai cita – cita.

“Bermimpilah… maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”

Impian terbesarku adalah bisa melanjutkan pendidikan S-2 di luar negeri khususnya di Belanda. Hal ini sendiri bukan tanpa alasan, karena seorang teman sesama jurnalis bernama Yohanes Widodo yang juga berasal dari media di kota Palembang, tempat kelahiranku, berhasil mendapatkan beasiswa dan kini sedang menyelesaikan program S-3 nya.

Selain itu, negeri Oranje memiliki sejuta pesona, sebagai informasi bunga tulip merupakan salah satu bunga favoritku selain chrysant. Dan yang pasti adalah melihat langsung negeri kincir angin. Begitu banyak pesona Belanda yang membuatku bermimpi untuk kesana.

Beberapa alasan studi di Belanda, diantaranya:

  • Masyarakat yang multikultur dan terbuka
  • Lingkungan studi yang internasional
  • Pendidikan dan riset yang berkualitas dan beraneka ragam
  • Terletak di tengah benua Eropa
  • Value for money

Hidup itu adalah pilihan, dan pilihan kita menentukan kualitas diri kita. Hal ini sama seperti ketika saya memilih menjadi seorang jurnalis di televisi lokal di Palembang. Impian saya bisa menjadi jurnalis yang terkenal, layaknya Rosiana Silalahi, yang menjejakkan diri di Amerika, Meutya Havid yang mendapatkan tugas meliput perang Irak dan disandera selama 168 jam.

Namun harus jujur diakui, hingga saat ini masih banyak ilmu yang kudapatkan dalam dunia jurnalistik. Untuk itulah Belanda menjadi pilihanku, meski hingga saat ini, masih belum beruntung mendapatkan beasiswa tersebut.

Sesuai dengan tema dan judul tulisan diatas Inovasi dan Kreativitas Belanda. Harus diakui jika inovasi adalah kunci masa depan. Apa yang telah dicapai manusia saat ini tidaklah terlepas dari inovasi yang telah dilahirkan pada masa lampau. Bahkan kini kita bisa “mengintip” masa depan melalui berbagai penemuan yang telah diciptakan saat ini.

Kekagumanku pada Belanda adalah bagaimana negeri ini bisa menaklukan air dan negeriku selama 350 tahun. Soal menaklukan air, tentunya sebagai seorang yang tinggal di kota Palembang, yang dibelah oleh bentangan Sungai Musi saya ingin mempelajari bagaimana Belanda bisa membuat bendungan dan menahan air laut.

Inilah kenapa Holland menjadi salah satu negara yang memiliki inovatif di tengah benua Eropa. Pasalnya hingga kini, kita tentunya masih bisa melihat bangunan Belanda yang masih dipergunakan. Sebut saja gedung yang terus digunakan untuk instasi pemerintahan, seperti Istana Bogor, Gedung Sate (Bandung), Gedung Bank Indonesia (Yogyakarta) termasuk juga perkebunan dan bendungan. Peninggalan Belanda yang terus digunakan oleh Indonesia adalah sistem hukum Belanda dalam peradilan di negeri ini.

Peninggalan Belanda di kotaku adalah Menara Air atau Kantor Ledeng yang kini menjadi Kantor Walikota Palembang.  Bangunan ini berdiri pada tahun 1928, di zaman Jepang (1942 – 1945) Balai Kota (Kantor Menara Air) dijadikan Kantor Syuco-kan (Kantor Residen) dan terus dimanfaatkan sebagai balaikota hingga tahun 1956.

Bangunan Kantor Walikota Palembang sejak awal telah digunakan sebagai pusat pemerintahan Gemeente Palembang. Gedung ini pun menjadi saksi heroisme pemuda di Palembang saat Kemerdekaan RI diproklamasikan, 17 Agustus 1945. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan di empat sisi atas Kantor Ledeng.

Sejak 21 Agustus 1963 Kantor Menara Air berubah menjadi Kantor Pusat Pemerintahan Kota Praja Palembang yang sekarang disebut Kantor Walikota.

Saat ini pun masih banyak pembangunan yang mencontoh Belanda, salah satunya adalah pembangunan Plaza Benteng Kuto Besak Palembang, meniru gaya bendungan Belanda yang menahan air laut. Disini Palembang, berupaya menahan air sungai musi untuk tidak menggerus daratan.

Hasilnya tempat kumuh itu berubah menjadi salah satu tempat yang dikunjungi banyak orang saat ini, yang sebelumnya banyak orang termasuk orang Palembang sendiri takut untuk berada dan melewati daerah ini.

Begitulah adanya, sebagai mahluk pilihan Tuhan yang memiliki potensi dan kemampuan yang begitu besar. Kita harus meningkatkan kekuatan inovasi dan kreatifitas untuk mengubah kualitas hidup dan mewujudkan masyarakat yang dinamis.

Terlebih di era modern dan serba digital, sains dan teknologi memiliki peran besar dalam kehidupan manusia. Inovasi dan kreatifitas menjadi faktor penentu kemajuan suatu negara. Sehingga sepatutnyalah setiap negara memberikan kesempatan mengembangkan potensi dan kreatifitas yang dimiliki setiap rakyatnya.

Dan tidak kalah penting adalah menentukan kemajuan suatu negara mendukung masyarakatnya bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan penelitian, serta menghargai jasa para ilmuwan.  Karena itu, seluruh inovasi dan kreatifitas yang ada harus bisa memenuhi tuntutan dan menyelesaikan persoalan masyarakat serta jangan sampai justru menambah jarak kesenjangan sosial.

Karena inovasi dan kreativitas yang dimiliki Belanda, selain karena pernah menjajah negeri ini dan berusaha memberikan bantuan pendidikan, wajar jika Belanda menjadi salah satu tujuanku untuk belajar. Toh, bangsa Indonesia merupakan bangsa yang “pemaaf” begitupun dengan kita kan 😀 .

Ada kutipan  pernyataan Matsudaira Katamori, ketika melakukan penghormatan didepan tugu para Byakkotai (Bala Tentara) yang -katanya- telah mati sebagai seorang pejuang di pertempuran Aizu

“Ikutari no namida wa ishi ni sosogu tomo sono na wa yoyo ni kuji to zo omou”

“Tidak peduli berapa banyak orang yang membasuh batu-batu ini dengan air matanya, nama-nama ini tidak akan pernah hilang dari bumi ini”

Sumber :

http://www.nesoindonesia.or.id/indonesian-students/informasi-dalam-bahasa/studi-di-belanda

http://www.utrechtsummerschool.nl/

http://id.wikipedia.org/wiki/Belanda

http://www.digital-hydraulics.com/damcity/damcity.htm

http://www.epalembang.com/lang/id/service/government/mayors-office/

Tulisan ini diikutsertakan dalam ajang kompetisi blog (kompetiblog2010) studi di Belanda yang diadakan oleh Nuffic Neso Indonesia dengan tema: “Dutch innovation, in my opinion”

Garis Perempuan

Judul Buku    : Garis Perempuan

Pengarang     : Sanie B. Kuncoro

Penyunting   : Imam Rasdiyanto

Penerbit         : Bentang

Cetakan          : I , Januari 2010

Tebal              : 375 Halaman

Novel berjudul Garis perempuan ini menceritakan tentang bahasan yang tidak pernah lelah untuk dikupas, dipelajari dan dicari jalan keluarnya. Perempuan  terus menjadi topik hangat di suatu Negara, mulai dari zaman purbakala hingga kini kaum perempuan terus menjadi bahan eksploitasi tanpa bisa membela diri, begitu mereka berteriak membela saat itulah semakin banyak cacian dan hujatan mengarah pada kaum lemah ini. Apakah memang perempuan menjadi kaum termarginalkan.

Dalam hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim

“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri)1, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk…” Dalam satu riwayat: “Wanita itu seperti tulang rusuk….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Karenanya, perempuan merupakan makhluk lemah yang harus dilindungi dan diberikan pengarahan maupun pendidikan secara lemah lembut tanpa kekerasan.

Penulis Sanie B Kuncoro dalam noverl perdananya ini mengambil setting daerah di Jawa Tengah ini, mengisahkan tentang persahabatan empat wanita mulai dari mereka kecil hingga dewasa. Adalah Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey dengan empat jalan nasib yang berbeda memaknai keperawanan bersama empat lelaki.

Bagi perempuan keperawanan itu layaknya sebuah anugerah namun disisi lain justru malapetaka. Keperawanan menjadi hal yang terus dibicarakan hingga saat ini. Hampir sebagian besar masyarakat mengatakan keperawanan sangat penting. Karena jika perempuan yang belum menikah tapi tidak perawan lagi akan dihujat, dikecam dan dikucilkan dari masyarakat.

Tentunya sebagai pemilik yang sah, perempuan-lah yang paling berhak dan berkepentingan dengan keperawanan mereka. Namun sayangnya banyak perempuan terpaksa harus kehilangan miliknya yang  paling berharga itu demi sesuatu yang sesungguhnya tidak dia inginkan.

Ditengah kemiskinannya, Ranting terpaksa harus pasang badan demi melunasi hutang  puluhan juta untuk biaya operasi ibunya. Ranting pun tak punya banyak pilihan dengan mengandalkan hasil jualan karak (semacam kerupuk yang terbuat dari beras), untuk melunasi hutangnya dan membiarkan ibunya dalam penderitaan terus menerus. Pilihan sulit pun datang menghampirinya agar rela dijadikan istri ketiga dan seluruh hutangnya lunas.

Hampir sama seperti yang Ranting  yang mengalami persoalan yang serupa. Gendhing, juga terpaksa melakukan hal yang sama, menyelamatkan orang tuanya yang hanya sebagai tukang becak, dan ibunya tukang cuci pakaian dari lilitan hutang. Meski telah menamatkan SMA dan bekerja di salon milik majikan ibunya. Namun hal itu tidak bisa menyelesaikan persoalannya.  Karena bakti kepada orang tuanya, Gending pun harus menerima solusi pelunasan utang dengan penyerahan dirinya.

Kedua kasus ini serupa ini, kemiskinan menjadi hal yang selalu membuat perempuan terpaksa melakukan hal yang tidak diinginkannya. Kehilangan cita – citanya. Nilai keperawanan memiliki harga yang tinggi bagi kaum lelaki yang ingin merasakan sebuah symbol keperawanan.  Begitulah yang terjadi pada Ranting dan Gending yang menjual keperawanan mereka untuk sebuah tujuan menyelamatkan orang yang dicintainya.

Sementara itu, disisi lain Tawangsri dan Zhang Mey. Keduanya jauh lebih beruntung dari dua sahabatnya yang sejak kecil harus berjuang bertahan hidup. Sri dan Zhang dengan kehidupan sosial ekonomi menengah atas membuat mereka bisa kuliah tanpa harus pusing dengan biayanya. Keduanya memiliki lebih banyak pilihan dalam hidup, termasuk makna keperawanan mereka.

Kisah yang diungkapkan oleh penulis yang menetap di Solo ini seolah membuka cakrawala tentang keperawanan yang masih merupakan sesuatu yang dianggap penting. Baik oleh perempuan dan terutama lelaki, khususnya pada masyarakat Timur. Latar budaya Jawa dan Tionghoa, novel ini sangat feminis, dan membacanya seperti tidak menjadi terhakimi.

Sebagai seseorang yang belum menikah, dan melihat beberapa teman – teman yang telah menikah. Ternyata masih banyak kaum pria yang mencari seorang calon istri perawan. Pasalnya keperawanan seperti symbol yang memberikan  kebanggaan bagi suami menjadi yang pertama memecahkan perawan istrinya. Seolah – olah keperawanan adalah bukti kesucian seorang perempuan. Sehingga jika perempuan yang belum menikah tetapi tidak perawan adalah perempuan yang tidak baik. Dan cap itu akan terus bertengger di diri wanita dan seolah dunia ikut menghakimi mereka.

Inilah kejamnya dunia, betapa pun berhasilnya seorang perempuan namun mereka tetap dinilai berdasarkan masa lalu berbeda dengan laki – laki yang dilihat dari masa depannya dan tidak penting seburuk apapun masa lalunya. Budaya ini seolah mengakar di masyarakat. Perempuan harus untuk menjaga kehormatannya (keperawanannya) dan dianugerahkan hanya untuk orang yang dicintainya.

“Begitulah agaknya. Perempuan dan seksualitasnya bisa menjadi mesin penakluk yang efektif”

Haruskah seorang perempuan menyandang identitas dirinya sebagai perawan atau bukan perawan?  Toh pada akhirnya, setiap perempuan adalah perawan…