1001 Kisah Tentang Ibu Blog Competition

Ungu bersama Gery Chocolatos, Agnes Davonar menggelar kompetisi blog bertema 1001 Kisah Tentang Ibu. Ikutan yuk…

berhadiah puluhan juta rupiah, caranya gampang banget loh..

Berikut persyaratannya :

1.Khusus pengguna blog diwajibkan untuk memasang badge kompetisi widget dengan kode HTML yang bisa kamu lihat pada situs ini http://unguband.com/1000kisahtentangibu.html

catatan: perhatikan kotak kecil bertuliskan disamping html

2.Untuk pengguna Facebook harus memasang banner gambar kompetisi sebagai berikut:

catatan: save gambar ini lalu upload di facebook kamu

3.Pengguna notes Facebook harus men-tag 25 orang temanmu

4.Wajib untuk “likes” fan page

Ungu : http://www.facebook.com/home.php#!/pages/UNGU/283165686322?ref=ts

Gery Chocolatos : http://www.facebook.com/home.php?#!/chocolatos?ref=ts

Agnes Davonar: http://www.facebook.com/home.php?#!/pages/Agnes-Davonar/44570026953?ref=ts

5. Wajib Menjadi followers twitter

Ungu : http://twitter.com/UNGU_Tweet

Gery Chocolatos : http://twitter.com/gerychocolatos

Agnesdavonar: http://twitter.com/agnesdavonar

6.Mencantumkan link tulisan beserta judul lomba “Lomba Blog 1000 Kisah Tentang Ibu Presembahan Ungu & Chocolatos” sebagai status di masing-masing account personal Facebook dan Twitter.

7.Akan menjadi nilai tambahan apabila Gery Chocolatos di dalam cerita akan menjadi salah satu nilai tambah untuk peserta.

http://unguband.com/chocolatos.swf

Bangga Berbahasa Indonesia

Sudah cukup lama tulisan ini tertahan untuk dipublikasikan. Sebenarnya saya lupa alasannya apa? tapi kemungkinan karena kebetulan saya pada Mei 2010, saya sedang mengikuti Sekolah Jurnalisme Indonesia.

Dan akhirnya tergerak meneruskan tulisan ini setelah melihat ajang Miss Universe 2010 yang diikuti Puteri Indonesia 2009 Qory Sandioriva. Alasannya kekecewaannya bukan hanya karena Puteri asal Aceh tersebut gagal meraih mahkota Miss Universe namun karena tidak fasih berbahasa Inggris.

Dalam rekaman video Youtube menampilkan Qory tak fasih berbahasa Inggris dalam sesi wawancara. Karena rekaman inilah Qory mendapat banyak kecaman keras yang menilai Qory tak layak menjadi Puteri Indonesia 2009 karena seorang Puteri harus memiliki 3B ” brain, beauty and behaviour atau kecantikan, kecerdasan dan kepribadian “.

Hal serupa juga pernah dilakukan Nadine Chandrawinata pada pemilihan Miss Universe tahun 2006.

Terlepas dari pengalaman Nadine dan Qory banyak pertanyaan, Kenapa mereka tidak memilih menggunakan bahasa Indonesia saja? Karena tidak semua peserta Miss Universe bisa berbahasa Inggris. Lihat saja Miss Meksiko yang terpilih sebagai Miss Universe 2010.

Bahkan, dalam sesi wawancara pun Miss Meksiko Jemina Navarette menggunakan jasa penerjemah. Sehingga untuk selanjutnya, kenapa tidak menggunakan jasa penerjemah karena memang bahasa Inggris bukan bahasa ibu kita.

Apakah bangsa kita tidak cukup bangga untuk menggunakan bahasa Indonesia di ajang internasional? Menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar bisa jadi akan lebih mengagumkan karena lebih akan menunjukkan identitas bangsa Indonesia.

Memilih Pasangan = Memilih Sepatu Yang Pas

Perburuan mencari sepatu yang pas di ukuran kaki ternyata tidak semudah yang dipikirkan, apalagi ukuran kakiku termasuk yang luar biasa… 40 ukuran besar atau 41 … ampun dah *nepokjidat*

Awalnya kejadian memalukan terjadi saat kegiatan sosial Puteri Sumsel di Raja Sport Center di akhir Juli silam. Aku sengaja memakai sepatu yang sudah 3 tahun tidak dipakai dan hanya tersimpan didalam kota. Sepatu berwarna merah itu tidak kupikir akan menjadi rapuh.

Setelah asyik jalan – jalan, aku sadar sepatu itu lemnya lepas dan membuat sol sepatu itu juga lepas. Hiksss… malangnya aku ^””^ .

Akhirnya kuputuskan untuk membeli sepatu baru, setelah sibuk mencari di Palembang Trade Center yang tidak jauh dari kawasan lapangan futsal itu, tetap juga tidak menemukan sepatu yang pas di ukuran kaki.

Keputusan terakhir adalah membeli lem altico, sayang lem yang dimaksud tidak ada , dan yang hanya tersedia Aibon, alhasil aku sudah berlumur lem, sepatu juga tetap tidak nyaman dan hasilnya meski sudah kering ternyata lem itu membuat sepatu menjadi licin sehingga antara sol dan sepatu goyang-goyang.

Setelah tiba di lokasi acara, ternyata ada yang memperhatikan cowok lumayan cakep , aahhhhh… mati gaya dah … aku sibuk membereskan sepatu itu, dia malah melihat ke arahku … alamak , ampun dah cukup satu kali ini aja kejadian sepatu itu.

Kuakhiri acara itu, dengan menahan malu dan gengsi, dan tetap berusaha senyaman mungkin. Pulang dari acara tersebut, bersama rekan seprofesi aku menjahitkan / mensolkan sepatu ke kawasan cinde. Setelah selesai dijahit, sepatu merah itu pun kembali nyaman dipakai, mo dipakai berlari sepuluh kilo juga oke.

Pasca kejadian itu, akhirnya kuputuskan untuk mulai berburu high heels kembali. Hampir selama satu minggu di awal Agustus kemarin, kusibukkan mencari sepatu yang pas. Aku pun memaksakan diri membeli sepatu Bellagio satu nomor lebih kecil karena tidak ada ukuran yang pas. Dan sekarang sepatu itu terbungkus rapi di rumah tidak bisa kugunakan.

Keesokan harinya ketika merayakan Hari Ulang Tahun itikkecil aku menemukan high heels yang cocok dan pas,  setelah sebelumnya di hari yang sama aku juga membeli sepatu yang nyaman.

Ahhhh… ada hikmah yang kudapatkan dari pelajaran itu, tentang kesabaran dan tidak memaksakan diri. Jujur selama ini, aku suka memaksakan diri untuk merasakan nyaman dengan suatu hal padahal aku benar – benar tidak nyaman. Memaksakan diri agar dapat menerima seseorang tapi hasilnya malah fatal. Sakit hati, kehilangan waktu dan lainnya.

Itulah persamaan mencari sepatu yang pas dengan pasangan yang pas. Terkadang pertimbangan pertama saat membeli sepatu adalah sepatu yang bagus, cantik dan menarik, yang jadi pertimbangan utama. Padahal suka atau tidaknya warna dan design dari sepatu sebenarnya juga penting.

Begitupun saat  memilih pasangan, yang pertama dilihat selalu penampilan luar ganteng, keren dan menarik.

Terkadang karena hanya melihat penampilan luar sepatu itu, kita melupakan kenyamanan saat menggunakannya, sehingga demi terlihat menarik menggunakan sepatu itu perempuan jarang peduli sepatu itu pas dengan ukuran kakinya atau tidak sehingga  rela menahan kaki sakit dalam tiap langkahnya.

Begitupun dengan pasangan, sebagian besar perempuan ketika dia memutuskan untuk mencintai, semua pertimbangan ditutup sebelah mata dan seolah tidak  melihatnya.

Ketika seorang perempuan memakai sepatu yang tak pas dengan ukuran kakinya, dia akan mempunyai kesabaran yang lebih dari lelaki, sama halnya ketika perempuan menghadapi lelaki yang nyata-nyata tidak cocok dengan dirinya, dia pun akan bersabar, menahan menahan dan menahan. (Sampai kapan?)

Yah, mungkin juga karena sepatu ini indah, bagus, model dan warnanya. Dengan memakainya ia akan memberimu sebuah sinar terang, satu kebanggaan bersamanya. Tapi bukankah sudah jelas sepatu itu bukan ukuran kakimu, kenapa masih kau paksakan memakainya? Kenapa kau tipu diri sendiri dengan mengatakan nanti juga terbiasa, “Nanti?” Kapan?

Apakah setelah seluruh kulit di kakimu terkelupas, berdarah-darah, dan kau tak mampu lagi menahan sakitnya? Demikiankah? Oh, no… buat apa menyiksa diri?

Kenapa pula harus pertahankan sebuah sepatu yang hanya karena model design terbaru, termahal, terindah tapi kakimu rusak. kenapa tak coba kau lepaskan sejenak selamatkan kaki indahmu darinya? Toh Sepatu lain justru akan beri kenyamanan pada kakimu

Dalam satu hubungan demikianlah lelaki, cocok ya cocok, suka ya suka, tak ada lagi alasan. Dalam memilih pasangan tiap orang pun berbeda, seperti halnya kita memilih sepatu, sama.

Ada yang cukup memperhatikan penampilan luar saja, ada yang mengutamakan kualitas, ada juga yang memperhatikan mengenai harga. Meski apapun yang kamu utamakan dalam sebuah pertimbangan, Coba perhatikanlah dia pas atau tidak dengan ukuran kakimu.

Kadang kita sadar tak punya kekuatan membeli sepatu untuk dipakai, tapi masih saja ada orang yang nyata-nyata sepatu itu jelek untuk kakinya masih juga dibeli olehnya.

Begitu halnya dengan cinta, pahami dan mengertilah dahulu siapa diri kita bagaimana keadaan kita, baru setelah itu mencari type dan model dan ukuran yang pas buatmu.

Dengan demikian kita akan temukan apa itu bahagia.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَـٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

… Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga) … [ Qs : An-Noor; 26 ]

Perlu diingat memakai sepatu yang pas dengan kaki baru akan bisa melakukan perjalanan jauh.

Jangan biarkan sepatu memakai kaki karena harusnya kaki mu lah yang memakai sepatu.

Masih mengeluh kaki lecet, kenapa tak coba sepatu lain?


Lomba Makan Kerupuk “HARAM”

A : Mbak, MUI ngeluarin fatwa haram lomba makan kerupuk

S : Emang kenapa haram ? Apa kerupuknya dari B4B kan enggak ? emang kenapa ?

A : Tadi Ketua MUI sudah mengeluarkan fatwa itu

S : Ya, apa salahnya sih lomba makan kerupuk haram, lagian tiap 17-an sudah menajdi tradisi lomba makan kerupuk dan lomba itu yang paling seru

A : Tahun ini lomba makan kerupuk HARAM karena tahun ini  kan puasa pas lagi 17-an kecuali lombanya malam xixixixixiix….

S : ?!#$%?!#$%