Arsip tag Ibu

My New Life “Another Year of Fabulous”

11 Okt
Photo

Welcome My New Life…

Oh… Bukan… Bukan…

Saya belum menikah, tapi ini do’a dan permohonan saya, semoga di usia saya sekarang saya bisa menikah, menyempurnakan setengah agama saya dan saya ingin menikah karena Allah. Semoga saya bisa menjadi istri yang sholelah bagi lelaki baik, sholeh dan taqwa yang akan memperistri saya dan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anak saya serta memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk sesama Aamiin Allahumma Aamiin .

Make a wish

Ini adalah permohonan saya pertama di hari jadi ke 30 tahun. Semoga Allah mengijabah do’a penuh harap ini, menjadikan saya umat yang lebih baik lagi. Aamiin Ya Rabb.

Saya bersyukur, Alhamdulillah… atas semua rahmat, karunia, cinta dan kasih sayang serta ampunan yang diberikan Allah kepada saya hingga saat ini saya bisa menghirup udara dengan lega, merasakan nikmat sehat yang luar biasa maupun mendapatkan banyak kebaikan, teman-teman yang selalu memberikan dukungan ataupun orang yang tidak menyukai saya sehingga membuat saya bisa introspeksi diri.

Rasa terima kasih tak terhingga kepada kedua orang tua saya, Ayah dan Ibu yang telah melahirkan saya, merawat saya, memberikan makan yang baik, pakaian yang layak hingga membekali dengan pendidikan agama maupun duniawi.

Apa resolusinya ?

Resolusi… waduh seperti tahun baru saja, oke… mungkin ini karena 30 tahun saya berada dan menginjakkan kaki di dunia ini, memberikan warna bagi kehidupan.

Yang pasti saya berharap saya bisa segera menunaikan sunnah dan menyempurnakan setengah agama saya. Semoga di usia 30 ini, seorang laki-laki baik, sholeh dan taqwa itu datang meminang saya Aamiin Allahumma Aamiin.

Yang kedua saya ingin menunaikan ibadah umroh dan haji, semoga saya bisa menunaikan bersama keluarga saya, suami, ayah dan ibu saya Aamiin Allahumma Aamiin.

Yang ketiga saya ingin terus berkarya, menulis buku dan berharap semoga suatu saat karya saya menerima Nobel Aamiin Allahumma Aamiin.

Yang keempat semoga saya bisa mendirikan rumah asuh untk anak-anak Yatim, Piatu dan tidak mampu Aamiin Allahumma Aamiin.

Yang kelima saya bersyukur sekali kepada Allah SWT yang terus melimpahkah rahmat dan kasih sayangnya. Semoga saya bisa menjadi umat yang lebih baik lagi, istri sholelah dan ibu yang baik untuk anak-anak saya.

Aamiin Allahumma Aamiin.

Sent from my iPhone

Renungan di Hari Ibu

22 Des

Selamat Hari Ibu buat semua Ibu di muka bumi ini…

Cerita ini dikutip dari email yang masuk ke inbox pagi ini, mari berbagi di hari Ibu, semoga cerita ini bisa memberikan pencerahan bagi kita semua :D.

Judul: ♥●•٠·˙ Kisah Nyata yg Mengharukan : Wanita itu Ibuku˙·٠•●♥

Ini adalah sebuah kisah lama yang patut dibaca dan direnungkan berkali- kali betapa baiknya ibunda kita, bagaimana besarnya pengorbanan ibunda kita dan seterusnya.

Kejadian ini terjadi di sebuah kota kecil di Taiwan, tahun pastinya sudah lupa. Dan sempat dipublikasikan lewat media cetak dan elektronik. Ada seorang pemuda bernama A be (bukan nama sebenarnya). Seorang anak yang cerdas, rajin dan cukup cool. Setidaknya itu pendapat kaum hawa yang mengenal dia. Baru beberapa tahun lulus dari kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan swasta, dia sudah dipromosikan ke posisi manager. Gajinya pun lumayan.Tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari kantor.

Tipe orangnya yang humoris dan gaya hidupnya yang sederhana membuat banyak teman-teman kantor senang bergaul dengan dia, terutama dari kalangan perempuan single. Bahkan putri owner perusahaan tempat ia bekerja juga menaruh perhatian khusus pada A be.

Di rumahnya ada seorang wanita tua yang tampangnya seram sekali. Sebagian kepalanya botak dan kulit kepala terlihat seperti borok yang baru mengering. Rambutnya hanya tinggal sedikit di bagian kiri dan belakang. Tergerai seadanya sebatas pundak. Mukanya juga cacat seperti luka bakar. Wanita tua ini terlihat seperti monster yang menakutkan. Ia jarang keluar rumah bahkan jarang keluar dari kamarnya kalau tidak ada keperluan penting.

Wanita tua ini tidak lain adalah Ibu kandung A Be. Walau demikian, sang Ibu selalu setia melakukan pekerjaan routine layaknya ibu rumah tangga lain yang sehat, seperti membereskan rumah, pekerjaan dapur, cuci-mencuci (pakai mesin cuci) dan lain-lain. Bahkan wanita tersebut juga selalu memberikan perhatian yang besar kepada anak satu-satunya A be. Namun A be adalah seorang pemuda normal layaknya anak muda lain. Kondisi Ibunya yang cacat menyeramkan itu membuatnya cukup sulit untuk mengakuinya.

Setiap kali ada teman atau kolega business yang bertanya siapa wanita cacat dirumahnya, A be selalu menjawab wanita itu adalah pembantu yang ikut Ibunya dulu sebelum meninggal. “Dia tidak punya saudara, jadi saya tampung, kasihan.” jawab A be. Hal ini sempat terdengar dan diketahui oleh sang Ibu. Tentu saja ibunya sedih sekali. Tetapi ia tetap diam dan menelan ludah pahit dalam hidupnya. Ia semakin jarang keluar dari kamarnya, takut anaknya sulit untuk menjelaskan pertanyaan mengenai dirinya.

Hari demi hari kemurungan sang Ibu kian parah. Suatu hari ia jatuh sakit cukup parah. Tidak kuat bangun dari ranjang. A be mulai kerepotan mengurusi rumah, menyapu, mengepel, cuci pakaian, menyiapkan segala keperluan sehari-hari yang biasanya di kerjakan oleh Ibunya. Ditambah harus menyiapkan obat-obatan buat sang Ibu sebelum dan setelah pulang kerja (di Taiwan sulit sekali cari pembantu, kalaupun ada mahal sekali). Hal ini membuat A be menjadi  uring-uringan di rumah.

Pada saat ia mencari sesuatu dan mengacak-acak lemari ibunya, A be melihat sebuah box kecil. Di dalam box hanya ada sebuah foto dan potongan koran usang. Bukan berisi perhiasan seperti dugaan A be. Foto berukuran postcard itu tampak seorang wanita cantik. Potongan koran usang memberitakan tentang seorang wanita berjiwa pahlawan yang telah menyelamatkan anaknya dari musibah kebakaran. Dengan memeluk erat anaknya dalam dekapan, menutup dirinya dengan sprei kasur basah menerobos api yang sudah mengepung rumah.

Sang wanita menderita luka bakar cukup serius sedang anak dalam dekapannya tidak terluka sedikitpun. Walau sudah usang, A be cukup dewasa untuk mengetahui siapa wanita cantik di dalam foto dan siapa wanita pahlawan yang dimaksud dalam potongan koran itu. Dia adalah Ibu kandung A be. Wanita yang sekarang terbaring sakit tak berdaya.

Spontan air mata A be menetes keluar tanpa bisa dibendung. Dengan menggenggam foto dan koran usang tersebut, A be langsung bersujud disamping ranjang sang Ibu yang terbaring. Sambil menahan tangis ia meminta maaf dan memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini. Sang ibupun ikut menangis, terharu dengan ketulusan hati anaknya. “Yang sudah-sudah nak, Ibu sudah maafkan. Jangan di ungkit lagi”. Setelah sembuh, A be bahkan berani membawa Ibunya belanja ke supermarket. Walau menjadi pusat perhatian banyak orang,  A be tetap tidak perduli.

Biar bagaimanapun ibu kita tetaplah ibu kita….sampai ajal menjemput tak ada kata mantan ibu maupun mantan anak…

Kemudian peristiwa ini menarik perhatian kuli tinta (wartawan). Dan membawa kisah ini ke dalam media cetak dan elektronik. Semoga cerita ini bermanfaat…

Ibuku, Pahlawanku

4 Okt

” Kasih ibu sepanjang jalan, tak terkira sepanjang masa, hanya memberi dan tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia “.

Sepenggal bait lagu memang pantas diberikan untuk Ibu tercinta. Tak kenal lelah, engkau berjuang mengandung, melahirkan, membesarkanku dan mendidikku hingga saat ini.

Tak terhitung berapa banyak tantangan, halangan dan permasalahan menghampirimu, tapi engkau tetap teguh dan kuat mengarungi kehidupan menjadikanku seperti saat ini.

Ibu, sejak aku dititipkan ke dalam rahimmu, sejak itu lah kau sandang tanggung jawab besar, amanah dan titipan dari Allah. Meski Ayah sempat meninggalkanmu selama mengandungku, engkau tetap kuat menghadapi beratnya cobaan mengandungku. Tak ada rasa lelah membawaku kemana – mana didalam perutmu.

Bahkan saat melahirkanku, tak ada setetes pun air mata yang keluar dari air matamu, meski rasa sakit yang kau rasakan tak dapat kubayangkan. Engkau malah tersenyum manis dan gembira menyambutku hadir ke dunia ini.

Setelah aku lahir ke dunia, engkau tetap tidak putus asa dan capek mendengarkan tangisanku di malam hari. Jeritanku di tengah malam, sering membangunkanmu, tidurmu tak lagi nyenyak, berat tubuhmu pun turun drastis. Namun Ibu semakin tangguh dan tegar seperti batu karang di lautan.

Aku pun mulai beranjak  besar dan mulai sekolah. Di TK, setiap pagi tak lelah kau membuatkanku kue – kue sebagai bekal sekolahku, selalu setia memakaikan baju, menguncirkan rambutku, termasuk memasangkan sepatuku. Itupun kau lakukan tanpa ada kata ah…, capek… Engkau malah tersenyum dan berkata… “Belajar yang baik ya sayang”.

Aku semakin besar, dan mulai masuk SD, aku mulai nakal. Teringatku saat jatuh dari pohon rambutan setinggi 2 meter.  Rumah kita yang banyak pohon buah menjadi tempatku bermain. Engkau langsung berlari menghampiriku yang sudah menangis kesakitan, kaki dan tanganku terluka serta keseleo.

Engkau marah kenapa aku memanjat pohon, kenapa aku nakal, tetapi yang kutahu engkau sangat khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada diriku.

Hal itu tetap tidak membuatku kapok, aku masih nakal, di sekolah aku kerap berkelahi dengan anak  laki – laki yang usil, pulang dengan baju kotor. Bahkan aku sempat minggat keluar dari sekolah melalui pagar, sayang rok sekolahku terkait di pagar kawat, aku memaksakan untuk tetap keluar melalui pagar itu. Dan akhirnya pagar kawat itu merobek pahaku.

Ibu terkejut melihat aku pulang dengan darah mengalir di  kakiku, lagi – lagi , aku membuatkumu khawatir dan sedih. Aku berjanji untuk menjadi anak baik dan tidak membuat ibu khawatir lagi.

Meski nakal aku tetap menunjukkan bakti dengan prestasi sekolah dengan meraih Rangking 1 dari SD – SMP. Namun Ibu terkadang masih menemukan diriku pulang dengan baju kotor karena aku berkelahi dengan teman lelakiku.

Perjuangan Ibu masih panjang, aku mulai dewasa, setelah berhasil menyekolahkanku di SPK Perdhaki Palembang, Ibu menerima pembangkanganku dengan tidak menjadi perawat dan memilih atlet Taekwondo sebagai jalan hidup.  Tapi Ibu tetap sabar dan berbesar hati merelakanku tidak menjadi perawat.

Setelah menamatkan aku kuliah di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Palembang , aku kembali memberikan pembangkangan yang sama dengan tidak menjadi guru, aku memilih berkarir di dunia televisi menjadi jurnalis sebagai cita – cita ku masa kecil.

Lagi – lagi, meski engkau marah dan memberikan nasehat agar aku bisa menjadi guru, namun pada akhirnya engkau menjadi pahlawanku yang selalu mengingatkanku tentang pentingnya sebuah keputusan.

Ibu, engkau  selalu siap mengulurkan tangan memenuhi kebutuhanku, tidak peduli rasa letih menguasai tubuh. Engkau selalu memberikan pelukan hangatmu di saatku kesepian. Engkau selalu menghiburku kalaku merasa sedih. Engkau selalu mendorongku dengan penuh semangat saat ku gagal. Engkau selalu memaafkan kesalahanku dan berbesar hati meski terkadang aku berkata dengan nada keras kepadamu.

Ibu, Engkaulah Pahlawanku yang tidak mengenal kata menyerah. Pahlawan yang bertempur hingga tetes darah penghabisan. Pahlawan yang berani korbankan nyawanya.

Ya Allah, cukupkanlah rezeki untukku membahagiakan Pahlawanku ini, mewujudkan impiannya ke tanah suci.

Ya Allah izinkanlah aku memberikannya anak menantu yang baik, sholeh dan takwa, serta memberikannya cucu – cucu yang lucu untuknya.

Ya Allah semuanya hanya bisa dengan bantuanmu, Amin Ya Rabb !!!

Ibu dan Hari Ibu

21 Des

Pernah melihat adegan Baim , artis cilik yang bermain dalam Catatan Harian Baim, disitu ada satu adegan yang membuatku tersentuh. Ketika Inneke Koesherawati ( Sang Ibu Baim ) menanyakan kenapa Baim tidur di ujung kakinya. Baim berkata ingin dekat dengan surga karena surga ada di telapak kaki ibu.

Luar biasa… setiap melihat adegan itu, air mata ini langsung menetes, entah karena tersentuh atau karena benar  – benar ingin merasakan surga dengan membahagiakan Ibu.

Betapa pengorbanan Ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui, membesarkanku dan ketiga adikku,  mendidik hingga kami bisa menjadi seperti saat ini.  Bahkan merawat kami tidak hanya di kala sehat tapi juga di kala sakit.

Tak ada hari tanpa Ibu, sejak bangun tidur, merasakan nikmatnya sarapan yang dibuat oleh Ibu. Bahkan sejak kecil kami tidak dibiasakan untuk jajan, Ibu selalu memasak makanan untuk kami, membuat kue dan aneka panganan. Ibu begitu memperhatikan gizi kami.

Ya Allah … hal itu baru bisa kurasakan manfaatnya saat ini, dan bisa melihat nilai kebaikan, kami tidak jajan sembarangan. Begitupun untuk sekolah, Ibu selalu mengiringi kami.

Adakah yang spesial di Hari Ibu setiap 22 Desember dengan  dengan menjadikan Ibu sebagai Ratu, membebaskannya dari tugas utama sehari-hari memasak, mengasuh anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Tapi, apakah hanya hari itu Ibu wajib diperlakukan istimewa?

Selayaknya kita memperlakukan Ibu dengan istimewa setiap hari, Islam  tanpa mengenal hari tertentu, mewajibkan setiap anak selalu mengistimewakan seorang Ibu.

Rasulullãh pernah bersabda, ”seandainya kita diberi kemampuan membayar setiap tetes ASI, tidak akan ada seorang pun yang dapat melunasi jasa Ibu seumur hidup kita”.

Allãh berfirman, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’,” (QS al-Isrã’ [17]: 23-24). Amin.

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Saya muda dan kuat, siap bertindak dan berbakti, dan ingin sekali pergi ke medan jihad untuk kemajuan Islam! Tetapi Ibu saya tidak membiarkan saya meninggalkannya untuk pergi berperang.” Nabi yang mulia bersabda, “Pergilah, tinggallah bersama Ibumu. Saya bersumpah kepada Tuhan yang memilih saya sebagai Nabi, bahwa pahala yang engkau dapatkan untuk melayaninya meskipun hanya semalam, dan membahagiakannya dengan kehadiranmu, jauh lebih besar daripada pahala perang jihad selama satu tahun.”

Seorang lelaki datang kepada Nabi seraya berkata, “Wahai Nabi Allãh! Tunjuki saya, kepada siapa saya mesti berbuat baik untuk mendapatkan manfaat yang sempurna atas amal kebajikan saya?” Beliau bersabda, “Berbuat baiklah kepada Ibumu.” Lelaki itu bertanya dua kali lagi, Beliau menjawab dua kali, ”Ibumu.” Lelaki itu bertanya lagi untuk yang keempat kalinya, ”Dan sesudah Beliau?” Nabi menjawab, “Kepada Ayahmu.”

Semoga niat menghajikan Ibu bisa segera terlaksana untuk memberikan kebahagiaan kepada beliau, karena Ibu sangat istimewa. Selamat Hari Ibu.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.213 pengikut lainnya.