(Bukan) Testimoni Susno

Susno Duadji, Jenderal berbintang 3 yang kini menjadi topik hangat di seluruh televisi terus menjadi sorotan. Tidak hanya pihak Polri tapi juga media dan seluruh masyarakat Indonesia.

Hampir di setiap sudut, Susno menjadi topik hangat yang dibicarakan, mulai dari kalangan atas hingga kalangan bawah, mulai dari pejabat hingga tukang becak asyik membahas permasalahan yang menimpa Susno.

Dimana keadilan buat Susno Duaji, apakah layak Susno menjadi bulan – bulanan seperti saat ini. Jujur jika melihat tayangan di televisi hati ini sangat miris, sebenarnya kemana kiblat hukum Indonesia.

Meski tidak begitu mengenal sosok mantan Kabareskrim yang lahir di Pagaralam ini, namun dimatanya ada sorot kekecewaan yang dalam terhadap institusi yang menaunginya.

Saya bertemu dengannya di Acara Bedah Buku Bukan Testimoni Susno yang digelar Gramedia , 19 Maret 2010 silam. Rasa kagum pun semakin dalam  setelah membaca buku Bukan Testimoni Susno terbitan Gramedia Pustaka Utama yang ditulis oleh IzHarry Agusjaya Moenzier. Buku ini membuka mata tentang apa yang terjadi sebenarnya.

Buku ini hasil perbincangan sang penulis dengan Susno yang bercerita tentang latar belakang Susno, keinginannya menjadi anggota Polri hingga meraih bintang tiga. Selain itu juga diceritakan ketika Susno Kabareskrim yang berakhir dengan dijadikannya Susno sebagai  kambing hitam.

Kini masyarakat harus mendapatkan kebenaran dan keadilan, kenapa hukum dipermainkan, kenapa orang yang bermasalah masih dibela, padahal telah merugikan negara. Disisi lain orang yang ingin memberikan kebenaran, dibungkam dan dizholimi.

Masyarakat butuh jawaban atas semua yang terjadi dan tidak menjadi bodoh maupun bingung, melihat sandiwara yang dipermainkan para petinggi negeri ini.

Susno mengatakan didalam bukut tersebut, bahwa tidak ada niat secuilpun untuk berbenturan dengan institusi kepolisian yang telah membesarkan dirinya. Namun, saat ini Susno merasa dirinya sudah dirugikan dan dilalimi, dia hanya ingin namanya direhabilitasi.

Jadi saya sudah pada posisi yang tidak punya bargaining power lagi. Saya sudah tersudut, dinding tebal ada di punggung saya. Saya tidak bisa mundur lagi”, kata Susno.

Puluhan tahun ia menjalani karir dan berbakti, Susno tidak rela harus berakhir begini. Susno ingin institusi Polri tampil membela dan memulihkan nama baiknya.

Lalu, di sampul belakang dari buku ini Adnan Buyung Nasution memberikan komentarnya atas buku ini dengan menuliskan bahwa Susno harus bicara !, karena tanpa itu maka akan berlaku pepatah ‘setengah kebenaran lebih jahat dari kejahatan itu sendiri’.

Untuk melengkapi yang separuhnya lagi, Susno harus bicara lebih banyak lagi tentang semua kebenaran yang dia ketahui, sehingga semua menjadi sempurna sebagai sebuah kebenaran yang utuh.

“The opinion of million is not necessarily true, the opinion of one person is not necessarily wrong.” Susno Duadji

Semoga Allah memberikan kebenaran dan keadilan serta melindungi Susno Duaji.

13 thoughts on “(Bukan) Testimoni Susno

  1. kasian yeh, pak susno… cuma untung media gencar membela org2 yg mo mngungkap kebenaran. jgn beh wong sumbagsel nih abis krn dijebak. jgn sampe nasib susno mencak antasari azhar. dijebak, dipenjara & mereka yg mengakibatkan itu cuma ttawa2 sambil bkacak pinggang…

  2. wih mantap nih bisa foto sama pak susno
    kebenaran di negeri ini memang barang langka. baru kemarin dia dicaci, sekarang dipuja. Lantas siapa yang benar?😀

  3. biarlah hati nurani yang bicara, mana yang pantas dibela,
    jika hati itu memang ada…

    smoga kebenaran bisa terungkap, meski harus besakit2 dulu,,,
    jika itu kebenaran maka tidak akan sia2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s