Stop Malpraktik

tangan dokterKasus malpraktik tidak hanya terjadi di Jakarta seperti yang dialami Prita. Kali ini kota Palembang pun menjadi salah satu tempat terjadinya malpraktik.

Korbannya pun cukup membuat miris hati, karena usianya masih sangat muda yang dilakukan oleh bidan Puskesmas Pembantu (Pustu) Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Palembang. Bidan Yt, diduga melakukan malpraktik dan mengakibatkan Versi Paris seorang bayi pasiennya meninggal dunia setelah diobati.

Dugaan malpraktik karena setelah diberi obat  Paris (3 bulan), justru mengalami kejang-kejang dan tubuhnya membiru. Kondisi tersebut terjadi sekitar setengah jam.

Oleh Ibunya, Paris pun dibawa ke bidan lain dan dikatakan kalau Paris diduga salah makan obat atau keracunan obat. Karena kondisinya semakin memburuk, bayi itu dibawa ke RSUD Bari Kota Palembang untuk mendapatkan pertolongan, namun tidak lama kemudian ia meninggal dunia.

Belum diketahui kemungkinan kasus ini akan dituntut keluarga pasien atau tidak, sehingga dapat diproses lebih lanjut atau kedua orang tuanya telah menerima keadaan tersebut.

Saat ini Pwmprov Sumsel gencar menggaungkan program pengobatan gratis, khususnya bagi warga kurang mampu. Apakah karena serba gratis pun akhirnya membuat semuanya serba seadanya.

Jika telah terjadi kesalahan tindakan medis, apakah pasien dan keluarga pasien tidak menuntut, bertanya dan marah dengan tindakan mereka (dokter, bidan dan perawat).

Apakah hanya mereka saja yang boleh melakukan hal semaunya untuk pasien, toh pasien bukan kelinci percobaan untuk kesembuhan suatu penyakit.

Pasien pun masih memiliki hak untuk bertanya, dan mendapatkan informasi lebih banyak tentang penyakit mereka dan tindakan medis yang dilakukan untuk diri mereka.

Toh badan yang akan disembuhkan bukan badan dokter, perawat atau bidan tapi milik pasien dan itu sifatnya pribadi.

Ketika itu semua terjadi, kesalahan terjadi karena tindakan medis yang keliru, berulang kali IDI terus melindungi anggotanya, kenapa mereka tidak mau mengungkapkan hal sebenarnya.

printDimana hati dan tanggung mereka terhadap profesi mereka pada mereka telah melakukan sumpah profesi, dan ada hukum serta balasan untuk sumpah yang dilanggar.

Dimana lagi kepercayaan masyarakat untuk berobat dan menyembuhkan penyakit mereka????

Kini saatnya semua pihak bersatu STOP MALPRAKTIK, jadilah konsumen yang pintar.

mario

Toh pasien itu bukan komoditi dokter atau malah sebaliknya ya …

 

7 thoughts on “Stop Malpraktik

  1. ralat … malapraktik, bukan malpraktek atau malpraktik … nanti dokternya jadi ketawa😀

    mengenai hal yg diinformasikan mba’ Suzan, kita tunggu saja dulu bagaimana isi dari RUU RS yang mestinya paling lambat akhir tahun selesai …
    tetapi dari sisi manapun, sebagai seorang pasien yang juga konsumen, kita sudah dilindungi oleh hukum yang saat ini sudah cukup jelas … hanya saja seringkali hukum disalahartikan atau disalahgunakan oleh seseorang apabila memiliki kekuasaan, baik secara materi maupun jabatan …

    mengenai pengobatan gratis tidak ada hubungannya dengan tindakan seseorang dalam melakukan pelayanan … sangat berbeda dalam substansi lingkungan kerjanya … sama halnya dengan obat paten dan obat generik yang salah diartikan, karena murah dianggap tidak mujarab padahal secara kualitas tetap sama tetapi obat generik diproduksi secara masal, lokal dan bersubsidi …

    tingkat layanan rumah sakit sangat tergantung dengan komitmen elemen2 didalamnya untuk menjalankan aturan dan perundang-undangan … tidak hanya kewajiban pasien saja yang diutamakan, tetapi juga hak-hak pasien wajib untuk ditindaklanjuti …
    sayangnya masyarakat kita ini sudah begitu teracuni dengan jiwa orde baru yang selalu menganggap jabatan sebagai kekuasaan, bukan sebagai pelayan …

    semoga seluruh elemen masyarakat kita dapat menyadari betapa pentingnya mengetahui, menerapkan, menjalankan, dan konsekuensi dari hukum dan perundang-undangan …

  2. dalam melihat dan mendengar suatu masalah hendaknya ktia berfikir jernih dan kritis. inilah salah satu ciri orang indonesia yang tidak mau berfikir jernih sebelum menyikapi sesuatu, sehingga mudah diprovokasi.tapi hal ini tidak mengherankan melihat tingkat edukasi orang indonesia yang masih sangat rendah.

    semua orang langsung berfikir menyalahkan rumah sakit dan bidan. apakah tidak ada yg berfikir ” sebenarnya sebelum itu bayi ini sakit apa? ” ” apa penyakit dasarnya sebelum diobati bidan ? ”
    mungkin saja benar bidan ini salah obat, tapi mungkin juga tidak. kejang mungkin memang akibat penyakitnya sendiri, dan kebetulan tidak dapat diatasi dengan obat yang diberikan bidan itu.

    semoga dapat menjadi renungan kita, hendaknya berusahalah berfikir objektif dulu dan cari lah faktanya sebelum ber argumen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s