“bintang yang kan selalu bersinar”

Filosofi Kopi Juli 23, 2008

Diarsipkan di bawah: catatanku — suzannita @ 6:22 pm
Tags: , , , ,

Aduh mungkin boleh dibilang ketinggalan zaman, boleh deh. Tapi karena biasanya kalo orang dah bilang bagus, baru aku beli tuh buku, nah karena melihat Dewi terobsesi untuk membeli Filosofi Kopi – buku karya Dee – Dewi Lestari 2006, aku pun akhirnya tertarik dan ikutan memesan buku tersebut.

Dan akhirnya setelah satu bulan menunggu buku itu datang, Filosofi datang juga di tangan, meski sampulnya berbeda dengan buku pertama, buku bersampul kopi, memang sih buku ini bercerita tentang Barista – Ben, yang punya mimpi memberikan kesempurnaan.

Dewi Lestari sangat piawai membawa kita terpana dalam cerita Filosofi kopi, mengajak kita berpetualang dan menikmati kopi, untuk kopi sendiri aku menyukai cappucino, kopi yang membutuhkan kesempurnaan, rumit dan butuh proses. Jika pengen yang lebih manis dan lebih soft aku pilih coffelatte.

”Filosofi Kopi” berhasil menohok soal kopi secara cerdas. Kumpulan cerpen yang terdiri dari 18 tulisan ini merangkum tulisan Dee yang ia kumpulkan selama periode 1995-2005.

Fiosofi Kopi bercerita tentang obsesi Ben untuk menemukan racikan kopi yang sempurna, hingga dia rela pergi ke berbagai pelosok dunia hanya untuk mencari racikan kopi yang sempurna. Hasil pengembaraanya kemudian dia wujudkan dengan mendirikan kafe bersama temannya, Jody.

Untuk memberikan kesan, kopi racikan Ben selalu hadir bersama pesan yang dicetak dalam selembar kartu, yang menjelaskan karakter dari kopi yang akan diminum setiap tamunya. Kafe Ben menjadi ramai karena setiap pengunjung bebas memilih kopi yang sesuai dengan karakter mereka.

Puncaknya Ben ditantang untuk membuat kopi yang jika merasakan langsung terhipnotis dengan kesempurnaan. Akhirnya Ben berhasil membuat kopi yang diberi nama ”Ben Perfecto.” Kopi yang dijual Ben sungguh mahal harganya. Anehnya, orang mau saja membeli kopi mahal itu.

Ben merasa inilah puncak pencapaian obsesinya, hingga suatu hari ia kedatangan seorang pengunjung tua yang memesan ”Ben Perfecto.” Sayang, bapak tua itu mengatakan kopi itu sama enaknya dengan kopi tiwus.Ben pun langsung menginterogasi bapak tersebut, dan akhirnya membawa ke kedai kopi sederhana milik Pak Seno. ”Kopi Tiwus” – kopi pak Seno tidak mahal, bahkan tidak punya harga pasti. Di kedai Kopi Pak Seno, Ben menemukan kesederhanaan yang sudah lama dia lupakan. ”Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tidak mungkin kamu sembunyikan.”

Namun akhirnya kopi tiwus berhasil kembali menyatukan Ben dan Jody dan membuka kembali kedai yang tutup akibat keterpukulan Ben.

Ya memang sih, “dalam hidup ini tidak ada yang sempurna, namun beginilah hidup dengan apa adanya.”

 

Always, Laila Hanya Cinta Yang Bisa Juli 23, 2008

Diarsipkan di bawah: catatanku — suzannita @ 5:58 pm
Tags:

Karena melihat tumpukan buku yang udah sangat berantakan, dan karena ada teman yang mau pinjem buku, akhirnya aku pun membongkar seluruh buku – buku yang kumiliki. Setelah kususun, dan kurapikan berdasarkan karakter bukunya.

Akhirnya aku terpaku pada satu buku, Always, Laila Hanya Cinta Yang Bisa, buku karya Andi Eriawan ini memang menggugah diriku. Karena biasa alasan melow, sama seperti cerita hidupku, hanya saja , mantanku masih hidup. Dan kini ada seseorang yang telah mengisi hatiku.

Buku ini bercerita tentang seorang Laila, umur 25 tahun, memiliki segalanya. Hidup yang ringan, tak banyak masalah, punya pacar (Pram) yang selama 8 tahun menemani hari-hari bahagianya.

Sementara Pram – Phrameswara, sebaya dengan Laila, adalah sosok yang easy going, arsitek yang suka memasak, hingga memiliki kafe yang dinamakan Laila’s Café, karena sangat mencintai Laila. Sebagai orang Bandung, Pram tidak menyukai bioskop dan factory outlet (FO) yang banyak bertebaran di kota itu. Semula ia tidak mau mengambil profesi yang mendasari pendidikannya, tetapi keadaan berbalik ketika Laila memutuskan cintanya begitu saja. Pram lalu pindah ke Yogya, bekerja pada sebuah perusahaan properti.

Kisah Laila dan Pram sebenarnya sederhana. Dua kekasih yang serasi, sepakat untuk menikah. Tak ada yang tidak menyetujui niat keduanya, karena kedua keluarga telah saling mengenal dengan baik. Tetapi tatkala mendapati dirinya mengidap Carsinoma Ovarium, yang mengakibatkan kedua indung telurnya harus diangkat demi keselamatan hidupnya, niat menikah itu pupus. Laila telah membayangkan perkawinannya kelak akan gaduh dengan suara anak-anak, dan Pram pun meyakini Laila akan menjadi sitri dan ibu yang baik. Tetapi, apa artinya jika Laila tak bisa memiliki anak yang lahir dari rahimnya sendiri?

Tanpa diketahui Pram, Laila punya argumen sendiri tentang kenyataan hidupnya. Menurutnya, untuk waktu-waktu dekat Pram mungkin akan menerima kondisi tubuh Laila dan tidak menjadikannya masalah besar. Tetapi, bagaimana lima atau sepuluh tahun mendatang? Apalagi Pram anak tunggal yang tentu diharapkan memiliki anak sebagai penerus keluarga.

Karena tidak ingin mengorbankan Pram itulah, lantas Laila menarik diri menjauh dari Pram tanpa pernah menjelaskan alasannya. Sementara Pram tetap mengejarnya selama lebih dari empat bulan, sampai putus asa lalu memutuskan pindah ke Yogya.

Lalu, setelah memikirkan sekian lama, Laila berubah, ingin kembali kepada Pram, dan mengejarnya ke Yogya. Tetapi Pram keburu meninggal kejatuhan balok batu karena menyelamatkan seorang pekerjanya.

Memang sih terkadang kita menyadari orang yang menyayangi kita, itu setelah dia meninggalkan kita, makanya aku gak mau kehilangan orang yang aku sayangi, jadi aku lebih memilih untuk memberikan kesempatan kepada hatiku untuk menerima keadaan.

Karena sebenarnya kita tidak bisa menyamakan apa yang dipikirkan orang tentang kita. Jadi jangan pernah memposisikan diri kita dengan orang lain, karena hal tersebut tidak akan pernah bisa dan tidak akan pernah sama.